|
|
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Penelitian
Terdahulu Tinjauan pustaka Iklan Prabowo
Penelitian
terdahulu perlu dirujuk secara kritis sejak penulisan proposal samapai dengan
pelaksanaan penelitian. Melalui jurnal-jurnal penelitian, peneliti dapat
mengetahui apa yang akan terjadi sekarang di dalam bidang yang diteliti
(Alwasiyah, 2002:125). Untuk itu dalam penelitian ini pun perlu adanya rujukan
dari penelitian-penelitian terdahulu yang mengkaji tentang konstruksi.
2.1.1 Konstruksi Suami Dalam Iklan Kecap
Sedap versi Rahasia Jago Masak.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui konstruksi suami berdasarkan makna denotatif dan
konotatif, mitos suami yang ditentang, dan ideology yang muncul. Metode
penelitian ini yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan
pendekatan Semiotik Roland Barthes. Data penelitian diperoleh dari iklan
televisi Kecap Sedap versi Rahasia Jago Masak. Teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini diperoleh melalui observasi, analsisi teks, wawancara, dan studi
pustaka.
Hasil
penelitian ini menunjukan bahwa terdapat tiga scene dalam iklan Kecap Sedap
versi Rahasia Jago Masak yang secara khusus mengkonstruksikan suami. Untuk
kemudian, dari scene-scene tersebut, teridentifikasi mitos suami yang ditentang
sebagai berikut; Suami tidak layak mengerjakan pekerjaan rumah tangga, suami
dilayani istri dalam keluarga, dan suami tidak menyukai pekerjaan rumah tangga.
Melalui
analisis tanda-tanda berupa aspek visual serta aspek audio, penelitian ini menyimpulkan
bahwa iklan Kecap Sedap versi Rahasia Jago Masak tidak lepas dari dua ideologi
dominan; resitensi dan kapitalisme.
Perbedaan
iklan Kecap Sedap versi Rahasia Jago Masak dengan penelitian Konstruksi sikap
Prabowo dalam iklan kampanye pilpres 2014-2019 tema Indonesia Bangkit yaitu
terletak pada isu yang diangkat. Dalam penelitian iklan Kecap Sedap versi
Rahasia Jago masak yang diangkat adalah tentang isu gender sedangkan dalam
penelitian ini adalah tentang sikap kepemimpinan menjadi seorang Presiden
Republik Indonesia.
Sedangkan ideology yang diangkat
sama-sama tentang kapitalisme. Produk yang dijual untuk menghasilkan sesuatu
yang menguntungkan pihak pembuat iklan.
2.1.2 Representasi Korupsi Dalam Iklan
Rokok Djarum 76 versi Korupsi, Pungli & Sogokan di Media Televisi.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Budaya Korupsi dipresentasikan dalam
iklan Rokok Djarum 76 versi Korupsi, Pungli & Sogokan di Media Televisi.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, denga pendekatan
semiotika dari Roland Barthes. Dalam pengumpulan data, penelitian ini
menggunakan teknik studi pustaka dan observasi secara mendalam terhadap iklan
yang menjadi objek penelitian ini.
Kesimpulan
yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat scene-scene penting yang
mewakili keseluruhan scene, dimana di dalamnya terdapat tanda-tanda yang
penting, yakni isyarat tangan dari tokoh dalam iklan ini, dan sosok Jin dalam
iklan ini. Terdapat makna konotasi, yaitu uang pelicin dianggap lumrah dalam sebuah
birokrasi dan dilakukan tanpa rasa malu, pelaku korupsi identik dengan pegawai
negeri, masyarakat sudah sangat kesal terhadap korupsi namun tak dapat berbuat
apa-apa, masyarakat tidak lagi percaya terhadap pihak berwenang untuk menghapus
korupsi, korupsi sangat sulit dihilangkan. Terdapat tiga mitos dalam iklan ini,
dan analisis mitos yang sudah dilakukan, yaitu korupsi umumnya dilakukan oleh
pejabat, korupsi sudah menjadi budaya di Negara kita, instansi pemberantasan
korupsi belum bekerja maksimal. Peneliti juga menemukan ideology yang muncul
pada iklan ini yaitu ideology konsumerisme dan Kapitalis.
Perbedaan
dengan penelitian Iklan kampanye pilpres ini adalah selain ide yang diangkatnya
yaitu ide tentang budaya korupsi di negeri kita sedangkan iklan kampanye
pilpres adalah ide tentang kepemimpinan di negeri kita juga sudut pandang.
Iklan rokok lebih tetang mempresentasikan sebuah ide sedangkan iklan rokok
lebih kepada pembentukan sebuah ide.
Sedangkan
ideology yang dipakai sama yaitu konsumerisme dan kapitalisme. Tentang
bagaimana memperoleh keuntungan dengan cara memakai produk yang ditawarkan.
2.1.3 Representasi Kecantikan dalam
Iklan Kosmetik The Face Shop
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui representasi kecantikan dalam iklan kosmetik The
Face Shop. Penelitian ini menggunakan metode semiotika dari John Fiske.
Penelitian melihat tanda-tanda yang digunakan untuk melahirkan penggambaran
tentang konsep kecantikan. Iklan The Face Shop dipilih karena menurut peneliti,
iklan ini berbeda dengan lainnya yaitu penggunaan model laki-laki secara
dominan pada iklan kosmetik untuk wanita.
Pada
akhir penelitian, didapatkan konsep kecantikan yang direpresentasikan melaui
iklan kosmetik The Face Shop. Kecantikan yang ditampilkan adalah kecantikan
ideal. Kecantikan ideal adalah pada wajah yang memiliki kualitas kulit putih,
halus, dan bersih. Kualitas kecantikan tersebut diperoleh dari penggunaan
produk perawatan wajah yang berdasar bahan alami. Model laki-laki yang
digunakan sebagai model iklan sekaligus juru bicara produk, merupakan tanda
bahwa kecantikan bukan lagi hal yang tabu untuk laki-laki, bahkan perawatan
wajah dan tubuh juga diproduksi untuk wanita dan laki-laki.
Kecantikan
yang terlihat di iklan ini juga menunjukkan ideologi kapitalisme, yaitu kecantikan,
dalam hal ini industry kecantikan, stigma kecantikan, bahkan laki-laki sebagai
objek kecantikan tidak lepas dari pengaruh kapitalisme. Kecantikan ideal yang
diwujudkan melalui penggunaan produk-produk kecantikan, dengan demikian adalah
komoditas yang dihasilkan oleh kapitalisme.
Perbedaan
dengan iklan kampanye pilpres ini adalah alat analisis semiotikanya yaitu dari
John Fiske. Isu yang diangkat juga berbeda isu yang diangkat dalam penelitian
Iklan Kosmetik The Face Shop adalah tentang konsep kecantikan yang ideal
menurutversi dari iklannya sedangkan iklan kampanye politik adalah tentang
konsep sikap kepemimpinan versi calon presiden dan tim suksesnya. Bahasan
kurang lebih sama bagaimana mengkonstruksi tentang sesuatu citra lewat media
iklan.
Ideologi
yang dihasilakan juga sama yaitu kapitalisme, menjual atau menawarkan produk
dengan cara pembentukan citra sebagai sesuatu menguntungkan.




0 komentar:
Posting Komentar