1.2.1
Persuasi
Sebagai Titik Tolak Kampanye
Pfau dan Parrot yang
dikutip oleh Venus (2004:29) menyebutkan bahwa “Campaigns are inherently persuasive communication activies”.
Meskipun inti dari kampanye adalah persuasi, namun tindakan persuasi dalam
kampanye berbeda dengan tindakan persuasive perseorangan. Sekurang-kurangnya
ada empat aspek dalam kegiatan kampanye persuasif yang tidak dimiliki tindakan
persuasif perseorangan yakni:
a.
Kampanye secara sistematis berupaya
menciptakan “tempat” tertentu dalam pikiran khalayak tentang prodak, kandidat
atau gagasan disodorkan.
b.
Kampanye berlangsung dalam berbagai
tahapan mulai dari menarik perhatian khalayak, menyiapkan khalayak untuk
bertindak, hingga akhirnya mengajak mereka melakukan tindakan nyata.
c.
Kampanye juga mendramatisasi
gagasan-gagasan yang disampaikan pada khalayak dan mengundang mereka untuk
terlihat baik secara simbolis maupun praktis, guna mencapai tujuan kampanye.
d.
Kampanye juga secara nyata menggunakan
kekuatan media massa dalam upaya menggugah kesadaran hingga mengubah perilaku
khalayak.
Disamping perbedaan di atas, Perloff menerangkan bahwa
persuasi dalam kegiatan kampanye juga berbeda dari tindakan persuasi dalam setting
laboratorium. Dalam tindakan kampanye, persuasi diterapkan dalam “dunia nyata”
yang kompleks dan dinamis, dimana khalayak sasaran hampir tidak mungkin
dikontrol laboratorium.
2.2.5 Bauran Komunikasi pada Kampanye
Bauran
komunikasi dapat ditarik unsur pokok yang berpijak pada “paradigmatic
komunikasi” yang terkenal dan disampaikan oleh Harold D. Laswell yang berbunyi who says what in which channel to whom with
what effect. Komponen-komponen komunikasi tersebut berkorelasional secara
fungsional, sebagai berikut:
|
Who says (Siapa mengatakan) : Komunikator
Says what (Mengatakan apa) : Pesan
(Messages)
In
which channel (melalui saluran
apa) :
Media
To
Whom (Kepada Siapa) :
Komunikan
With
what effect (dengan efek apa) : efek dan dampak
|
Metode
kampanye dilakukan secara berencana, sistematis, motivasi,psikologis dan
dilakukan berulang-ulang serta continue. Sebaliknya jika kampanye dilakukan
secara insidentil atau hanya dilakukan sekali tertentu maka hal ini kurang
bermanfaat untuk tujuaan kampanye. Kampanye tidak terlepas dari komunikasi yang
bersifat membujuk (persuasif) dan mendidik (edukatif) yaitu berupaya mengubah
sikap perilaku, sikap bertindak, tanggapan, persepsi sehingga membentuk opini
public yang positif dan menguntungkan segi citra.




0 komentar:
Posting Komentar