2.2.1
Iklan TV
Menurut pendekatan
Martin Esslin dalam bukunya Deddy Mulyana, Nuansa-nuansa Komunikasi (1999:155),
Iklan TV adalah drama, meski singkat (15-60 detik), pengaruhnya bersifat
subliminal dan sugestif, meski tidak sepenuhnya disadari pemirsa. Dengan
demikian, iklan mengaktifkan dorongan bawah sadar manusia yang selalu tertarik
kepada orang lain, penampilan dan keindahan fisik mereka. Karena inti drama
adalah ilusi, penggunaan seorang artis dalam iklan jauh lebih berdampak dari
pada orang yang punya otoritas sebenarnya dalam kehidupan nyata.
Menurut bentuknya iklan televisi terdiri
atas:
1.
Iklan Sponsorship
Pengiklan berperan sebagai sponsor
dengan bersedia membiayai seluruh produksi sampai dengan penayangan acara atau
program di televisi hingga selesai. Khusus jika pihak sponsor melakukan
kerjasama untuk acara televisi. Dapat bersifat komersial atau iklan layanan
masyarakat.
2. Promo Ad.
Iklan yang mempromosikan acara
televisi. Iklan ini biasanya berupa cuplikan adegan dengan lead sedemikian rupa sehingga khalayak tertarik untuk menonton. Target
utamanya adalah menarik perhatian pemirsa sebanyak-banyak agar mau menonton,
bukan menjual produk. Dengan meningkatkan jumlah pemirsa, maka ratting acara yang dipromosikan akan
meningkat dan pada gilirannya akan menarik sejumlah pemasang iklan.
3. Iklan
Spot.
Mengacu pada pengertian bahwa announcement iklan ditempatkan kepada
pergantian acara. Iklan Spot 10, 20,
30, atau 60 detik dijual oleh stasiun-stasiun televisi baik untuk pengiklan
local maupun nasional.
4. Public Service Announcement (Iklan Layanan
Masyarakat)
Iklan Layanan Masyarakat
ditayangkan atau permintaan pemerintah atau suatu lembaga swadaya masyarakat
untuk menyampaikan suatu informasi untuk memperoleh solidaritas maupun
keikutsertaan masyarakat.
5. Partisipasi
Iklan ini disajikan sepanjang 15,
20, dan 60 detik, yang disisipkan diantara satu atau beberapa program acara.
Pada bentuk iklan ini, pengiklan dapat membeli atau menyewa waktu yang bersifat
tetap maupun tidak tetap.
Dalam
kaitannya dengan isi pesan, iklan televisi sangat beragam. Meski ada yang
mengadopsi materi dari kehidupan sehari-hari, tetapi kadang iklan melakukan
seleksi atas materi itu. Ada materi yang diambil dan ada materi yang dihapus.
Oleh karena itu iklan ada yang mencerminkan realitas dan ada juga yang tidak (
Widyatama, 2006:18). Dalam bahasa Judith Williamson (Williamson. 2007:1) iklan
merupakan faktor kebudayaan yang paling penting, yang membentuk dan
merefleksikan kehidupan manusia sehari-hari.
Sekalipun
merefleksikan kehidupan manusia, namun tidak jarang penggambaran itu bersifat
mendistorsi. Iklan tidak mencerminkan realitas sepenuhnya dan bersifat jujur.
Dalam istilah Marchand (Widyatama, 2006:18), disebut sebagai a mirror on the wall, yang lebih
menampilkan penipuan halus yang bersifat terapeutik sebagai salah satu bentuk
bias-bias kepemimpinan yang memunculkan secara laten maupun terselubung dalam
rangka pembentukan persepsi bahwa kepemimpinan yang baik adalah yang dibentuk
sesuai iklan yang ditampilkan.




0 komentar:
Posting Komentar