Minggu, 01 November 2015

Iklan TV

2.2.1        Iklan TV
Menurut pendekatan Martin Esslin dalam bukunya Deddy Mulyana, Nuansa-nuansa Komunikasi (1999:155), Iklan TV adalah drama, meski singkat (15-60 detik), pengaruhnya bersifat subliminal dan sugestif, meski tidak sepenuhnya disadari pemirsa. Dengan demikian, iklan mengaktifkan dorongan bawah sadar manusia yang selalu tertarik kepada orang lain, penampilan dan keindahan fisik mereka. Karena inti drama adalah ilusi, penggunaan seorang artis dalam iklan jauh lebih berdampak dari pada orang yang punya otoritas sebenarnya dalam kehidupan nyata.
Menurut bentuknya iklan televisi terdiri atas:
1.      Iklan Sponsorship
Pengiklan berperan sebagai sponsor dengan bersedia membiayai seluruh produksi sampai dengan penayangan acara atau program di televisi hingga selesai. Khusus jika pihak sponsor melakukan kerjasama untuk acara televisi. Dapat bersifat komersial atau iklan layanan masyarakat.
2.      Promo Ad.
Iklan yang mempromosikan acara televisi. Iklan ini biasanya berupa cuplikan adegan dengan lead sedemikian rupa sehingga khalayak tertarik untuk menonton. Target utamanya adalah menarik perhatian pemirsa sebanyak-banyak agar mau menonton, bukan menjual produk. Dengan meningkatkan jumlah pemirsa, maka ratting acara yang dipromosikan akan meningkat dan pada gilirannya akan menarik sejumlah pemasang iklan.
3.      Iklan Spot.
Mengacu pada pengertian bahwa announcement iklan ditempatkan kepada pergantian acara. Iklan Spot 10, 20, 30, atau 60 detik dijual oleh stasiun-stasiun televisi baik untuk pengiklan local maupun nasional.
4.      Public Service Announcement  (Iklan Layanan Masyarakat)
Iklan Layanan Masyarakat ditayangkan atau permintaan pemerintah atau suatu lembaga swadaya masyarakat untuk menyampaikan suatu informasi untuk memperoleh solidaritas maupun keikutsertaan masyarakat.
5.      Partisipasi
Iklan ini disajikan sepanjang 15, 20, dan 60 detik, yang disisipkan diantara satu atau beberapa program acara. Pada bentuk iklan ini, pengiklan dapat membeli atau menyewa waktu yang bersifat tetap maupun tidak tetap.

            Dalam kaitannya dengan isi pesan, iklan televisi sangat beragam. Meski ada yang mengadopsi materi dari kehidupan sehari-hari, tetapi kadang iklan melakukan seleksi atas materi itu. Ada materi yang diambil dan ada materi yang dihapus. Oleh karena itu iklan ada yang mencerminkan realitas dan ada juga yang tidak ( Widyatama, 2006:18). Dalam bahasa Judith Williamson (Williamson. 2007:1) iklan merupakan faktor kebudayaan yang paling penting, yang membentuk dan merefleksikan kehidupan manusia sehari-hari.

            Sekalipun merefleksikan kehidupan manusia, namun tidak jarang penggambaran itu bersifat mendistorsi. Iklan tidak mencerminkan realitas sepenuhnya dan bersifat jujur. Dalam istilah Marchand (Widyatama, 2006:18), disebut sebagai a mirror on the wall, yang lebih menampilkan penipuan halus yang bersifat terapeutik sebagai salah satu bentuk bias-bias kepemimpinan yang memunculkan secara laten maupun terselubung dalam rangka pembentukan persepsi bahwa kepemimpinan yang baik adalah yang dibentuk sesuai iklan yang ditampilkan.

0 komentar:

Posting Komentar