Senin, 02 November 2015

Keabsahan Penelitian

Keabsahan Penelitian
Penelitian kualitatif menghadapi persoalan penting mengenai pengujian keabsahan hasil penelitian. Semiotik sendiri merupakan sebuah proses subjektif dalam menginterpretasikan makna berdasarkan pemahaman wacana realita yang terbentuk dalam pola pikir peneliti. Untuk itu keabsahan penelitian semiotic juga harus menjadi perhatian. Cara yang digunakan peneliti dalam uji keabsahan hasil penelitian ini adalah dengan triangulasi.
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2007:178). Triangulasi yang digunakan yaitu untuk melakukan analisis antar teks atau intertekstualitas terhadap sejumlah bahan data dan informasi baik teks visual maupun teks sosial yang telah dikumpulkan peneliti.
Dalam penelitian, peneliti akan menggunakan triangulasi dengan sumber, artinya membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif dalam tujuan untuk memahami konteks dari penelitian tersebut. Peneliti dalam melakukan triangulasi sumber,

Analisis semiotic merupakan sebuah teknik analisis yang sifatnya sangat subjektif interpretatif. Dalam penelitian semiotic posisi peneliti adalah sebagai penafsir atau interpretan, maka peneliti yang menggunakan analisis semiotic akan tergantung pada pemaknaan peneliti atas teks yang diteliti. Agar peneliti tidak terjebak dengan kesubjektivitasan peneliti, maka peneliti menggunakan data-data yang valid dengan sumber-sumber yang jelas.
Dalam penelitian ini terdapat intertekstualitas, dimana teks dalam iklan yang digunakan memiliki keterkaitan dengan teks lain. Hal ini terlihat dalam melakukan analisis kode cultural, dimana dibutuhkan konsep-konsep lain di luar iklan yang mampu membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada kode cultural. Oleh karena itu, dibutuhkan kejelasan dan kevalidan sumber yang digunakan. Penggunaan konsep-konsep yang telah diakui kebenarannya dalam analisis data akan meningkatkan keterpercayaan terhadap hasil dari penelitian ini.s
Pengujian validitas dalam penelitian kualitatif seperti halnya dalam penelitian kuantitaif, bahwa suatu studi tidak akan valid jika tidak reliable maka dalam penelitian kualitatif tidak akan transferable jika tidak kredibel, dan tidak akan kredibel jika tidak memenuhi kebergantungan.
Untuk memberikan keabsahan data sebagai bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastian bahwa yang berukur benar-benar merupakan variable yang ingin diukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai dengan proses pengumpulan data yang tepat.Reabilitas kualitatif mengidentifikasikan bahwa pendekatan yang digunakan peneliti konsisten jika diterapkan oleh peneliti-peneliti lain (dan) untuk proyek-proyek yang berbeda. Gibbs (2007) merinci sejumlah prosedur reabilitas sebagai berikut:
§    Ceklah hasil transkipsi untuk memastikan tidak adanya kesalahan yang dibuat selama proses transkipsi.
§    Pastikan tidak ada definisi dan makna yang mengambang mengenai kode-kode selama proses coding. Hal ini dapat dilakukan dengan terus membandingkan data dengan kode-kode atau dengan menulis catatan tentang kode-kode dan definisi-definisinya.
§    Lakukan cross-check dan bandingkan kode-kode yang dibuat oleh peneliti lain dengan kode-kode yang telah anda buat sendiri. (dalam Creswell, 2010:285)
Sementara validitas kualitatif merupakan kekuatan lain dalam penelitian selain reabilitas, dimana validitas ini didasarkan pada kepastian apakah hasil penelitian sudah akurat dari sudut pandang peneliti, partisipan, atau pembaca secara umum (dalam Creswell,2010:286). Validasi didapatkan jika peneliti mampu mendapatkan deskripsi yang akurat dari data yang benar-benar ditemukan di lapangan dan data tersebut diperoleh melalui proses yang benar.
Untuk mengartikan kriteria keabsahan suatu penelitian, ada empat kriteria yang melandasi yaitu, derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), ketergantungan (dependability), dan kepastian (conformability) (Moleong, 2007:173). Untuk memenuhi kriteria tersebut peneliti melakukan teknis pemeriksaan kebasahan Creswell (2010:286-288), sebagia bertikut:
a.              Triangulasi, yaitu membandingkan data yang diperoleh peneliti dari kegiatan informan lainnya, maupun dari sumber lainnya. 
b.             Member cek, peneliti menanyakan kembali perihal jawaban yang diutarakan responden atau informan sehingga didapat pemahaman yang sama.
c.              Membuat deskripsi yang kaya dan padat (rich and thick description) tentang hasil penelitian. Deskripsi ini setidaknya harus berhasil menggambakan setting penelitian dan membahas salah satu elemen dari pengalaman-pengalaman partisipan.
d.             Melakukan Tanya-jawab dengan sesama peneliti (peer debriefing) untuk meningkatkan keakuratan hasil penelitian. Proses ini mengharuskan peneliti mencari rekan (a peer debriefing) yang dapat mereview untuk berdiskusi mengenai penelitian kualitatif sehingga hasil penelitiannya dapat dirasakan oleh orang lain, selain oleh peneliti.

e.              Auditing, yaitu proses pemeriksaan ketergantungan data yang dikumpulkan oleh peneliti dengan melihat pemanfaatan metodelogi yang benar. Proses ini dibantu oleh auditor, dalam hal ini adalah pembimbing peneliti. 

0 komentar:

Posting Komentar