Keabsahan
Penelitian
Penelitian kualitatif
menghadapi persoalan penting mengenai pengujian keabsahan hasil penelitian.
Semiotik sendiri merupakan sebuah proses subjektif dalam menginterpretasikan
makna berdasarkan pemahaman wacana realita yang terbentuk dalam pola pikir
peneliti. Untuk itu keabsahan penelitian semiotic juga harus menjadi perhatian.
Cara yang digunakan peneliti dalam uji keabsahan hasil penelitian ini adalah
dengan triangulasi.
Triangulasi adalah
teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar
data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu
(Moleong, 2007:178). Triangulasi yang digunakan yaitu untuk melakukan analisis
antar teks atau intertekstualitas terhadap sejumlah bahan data dan informasi
baik teks visual maupun teks sosial yang telah dikumpulkan peneliti.
Dalam penelitian, peneliti akan menggunakan triangulasi dengan sumber, artinya membandingkan dan
mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu
dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif dalam tujuan untuk memahami
konteks dari penelitian tersebut. Peneliti dalam melakukan triangulasi sumber,
Analisis semiotic
merupakan sebuah teknik analisis yang sifatnya sangat subjektif interpretatif.
Dalam penelitian semiotic posisi peneliti adalah sebagai penafsir atau
interpretan, maka peneliti yang menggunakan analisis semiotic akan tergantung
pada pemaknaan peneliti atas teks yang diteliti. Agar peneliti tidak terjebak
dengan kesubjektivitasan peneliti, maka peneliti menggunakan data-data yang
valid dengan sumber-sumber yang jelas.
Dalam penelitian ini
terdapat intertekstualitas, dimana teks dalam iklan yang digunakan memiliki
keterkaitan dengan teks lain. Hal ini terlihat dalam melakukan analisis kode
cultural, dimana dibutuhkan konsep-konsep lain di luar iklan yang mampu
membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada kode cultural. Oleh
karena itu, dibutuhkan kejelasan dan kevalidan sumber yang digunakan.
Penggunaan konsep-konsep yang telah diakui kebenarannya dalam analisis data
akan meningkatkan keterpercayaan terhadap hasil dari penelitian ini.s
Pengujian validitas
dalam penelitian kualitatif seperti halnya dalam penelitian kuantitaif, bahwa
suatu studi tidak akan valid jika
tidak reliable maka dalam penelitian
kualitatif tidak akan transferable jika tidak kredibel, dan tidak akan kredibel
jika tidak memenuhi kebergantungan.
Untuk
memberikan keabsahan data sebagai bentuk batasan berkaitan dengan suatu
kepastian bahwa yang berukur benar-benar merupakan variable yang ingin diukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai dengan
proses pengumpulan data yang tepat.Reabilitas kualitatif mengidentifikasikan
bahwa pendekatan yang digunakan peneliti konsisten jika diterapkan oleh
peneliti-peneliti lain (dan) untuk proyek-proyek yang berbeda. Gibbs (2007)
merinci sejumlah prosedur reabilitas sebagai berikut:
§ Ceklah
hasil transkipsi untuk memastikan tidak adanya kesalahan yang dibuat selama
proses transkipsi.
§ Pastikan
tidak ada definisi dan makna yang mengambang mengenai kode-kode selama proses
coding. Hal ini dapat dilakukan dengan terus membandingkan data dengan
kode-kode atau dengan menulis catatan tentang kode-kode dan
definisi-definisinya.
§ Lakukan
cross-check dan bandingkan kode-kode yang dibuat oleh peneliti lain dengan
kode-kode yang telah anda buat sendiri. (dalam Creswell, 2010:285)
Sementara
validitas kualitatif merupakan kekuatan lain dalam penelitian selain
reabilitas, dimana validitas ini didasarkan pada kepastian apakah hasil
penelitian sudah akurat dari sudut pandang peneliti, partisipan, atau pembaca
secara umum (dalam Creswell,2010:286). Validasi didapatkan jika peneliti mampu
mendapatkan deskripsi yang akurat dari data yang benar-benar ditemukan di
lapangan dan data tersebut diperoleh melalui proses yang benar.
Untuk
mengartikan kriteria keabsahan suatu penelitian, ada empat kriteria yang
melandasi yaitu, derajat kepercayaan (credibility),
keteralihan (transferability),
ketergantungan (dependability), dan
kepastian (conformability) (Moleong, 2007:173).
Untuk memenuhi kriteria tersebut peneliti melakukan teknis pemeriksaan
kebasahan Creswell (2010:286-288), sebagia bertikut:
a.
Triangulasi, yaitu membandingkan data
yang diperoleh peneliti dari kegiatan informan lainnya, maupun dari sumber
lainnya.
b.
Member cek, peneliti menanyakan kembali
perihal jawaban yang diutarakan responden atau informan sehingga didapat
pemahaman yang sama.
c.
Membuat deskripsi yang kaya dan padat (rich and thick description) tentang
hasil penelitian. Deskripsi ini setidaknya harus berhasil menggambakan setting penelitian dan membahas salah
satu elemen dari pengalaman-pengalaman partisipan.
d.
Melakukan Tanya-jawab dengan sesama
peneliti (peer debriefing) untuk
meningkatkan keakuratan hasil penelitian. Proses ini mengharuskan peneliti
mencari rekan (a peer debriefing)
yang dapat mereview untuk berdiskusi mengenai penelitian kualitatif sehingga
hasil penelitiannya dapat dirasakan oleh orang lain, selain oleh peneliti.
e.
Auditing, yaitu proses pemeriksaan
ketergantungan data yang dikumpulkan oleh peneliti dengan melihat pemanfaatan
metodelogi yang benar. Proses ini dibantu oleh auditor, dalam hal ini adalah pembimbing
peneliti.




0 komentar:
Posting Komentar