Minggu, 01 November 2015

Definisi Paradigma

Paradigma seringkali disebut sebagai “basic belief system” merupakan acuan yang mempresentasikan cara pandang terhadap realitas dan bagaimana hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya. Pada perkembangannya, telah lahir berbagai paradigm yang sama-sama mengajukan cara penetapan kebenaran mutlak dan dengan berbagai alas an tertentu tidak dapat diterima oleh pihak-pihak lain. Hal inilah yang menyebabkan timbul bermacam-macam arus pemikiran yang sering kali bertentangan satu sama lainnya terutama dalam konteks perbincangan tentang lahirnya pengetahuan.
Berdasarkan hal ini, dalam aktifitas penelitian penetapan paradigm akan mempengaruhi peneliti dalam menentukan nuasa kebenaran yang akan dicari. Di titik ini validitas sebuah penelitian akan dibangun yang meninggikan derajat kebenaran dari analisis dari si peneliti. Dengan kata lain validitas di sini dapat diukur melalui berbagai batasan-batasan yang diambil dari sebuah paradigma. Lebih lanjut paradigm pada dasarnya menjelaskan jawaban-jawaban atas pertanyaan seputar dimensi ontologis,  epistemologis, dan metodologis.



Asumsi
Pertanyaan
Karakteristik
Implikasi Praktis
Ontologis
Mempertanyakan hakikat dari
realitas
Realitas bersifat
 subjektif dan
Majemuk; dilihat
Berdasarkan
Pandangan
Penelitian dan
informan
Menggunakan
Kutipan dan
Tema dengan
Kata-kata partisipan dan
Memberi bukti
Berbagai perspektif
(tinjauan pustaka)
Epistemologis
Mempertanyakan
Hubungan
Peneliti dengan
Yang diteliti
Peneliti harus
Berusaha
Mengurangi jarak
Terhadap yang
diteliti
Peneliti bekerja
Sama; menghabiskan waktu di lapangan
Dengan informan,
Dan menjadi
“orang dalam”
Metodoligis
Mempertanyakan bagaimana proses
penelitiannya
Peneliti
Menggunakan
 logika induktif,
Menelaah topic
Di dalam
Konteksnya; dan
Menggunakan
“emerging design”
(design darurat)
Peneliti bekerja dengan hal-hal yang khusus
Sebelum generalisasi,
Menggambarkan
Secara detail konteks
Penelitian, secara
Terus-menerus merevisi
Pertanyaan berdasarkan
Pengalaman lapangan
Tabel Paradigma Penelitian Kualitatif
(Guba dan Lincoln dalam Creswell 1998:75)
           Berdasarkan permasalahan yang dibahas kerangka pemikiran yang dibangun, serta metode yang digunakan dalam penelitian ini, maka dapat ditentukan bahwa paradigma penelitian ini adalah paradigm kritis. Paradigma kritis mengizinkan dilakukannya interpretasi oleh para penelitinya, agar mereka mampu keluar dari cara pandang sempit dan berbasis ideologi yang biasa digunakan dalam memandang fenomena sosial. Pada akhirnya, interpretasi semacam ini diharapkan mampu mengurangi ketidakadilan dan kontradiksi yang terdapat dalam sebuah masyarakat kapitalis terhadap sesuatu yang selam ini dianggap tidak dapat diubah.
           Para pemikir teori kritis memberikan perhatian lebih terhadap perubahan sifat tanda sebagai fenomena sosial, yang pada gilirannya mempertahankan keobjektifan, dan keintersubjektifan karakter dalam tatanan sosial (Gephart, 1999:8). Mereka berusaha meneliti bagaimana berbagai tanda mempengaruhi kehidupan kita, sementara di sisi lain tanda-tanda itu justru menjadi semakin jauh dari hal-hal yang ditandai atau yang mereka rujuk.
           Dalam tabel berikut akan disajikan karakteristik dari penelitian komunikasi yang melandaskan dari penelitian komunikasi yang melandaskan diri pada paradigm kritis.
Asumsi
Dunia pada dasarnya terdiri dari berbagai kontradiksi atau eksploitasi yang terstruktur dengan baik, yang dapat dikenali secara obyektif hanya dengan mengurangi bisa ideologis.
Fokus utama
Usaha mencari kontradiksi-kontradiksi yang disembunyikan oleh ideologis memberikan ruang terbuka bagi suara-suara yang semula tidak terdengar
Teori-teori
Utama
Posmodernisme, Strukturalisme, Dekonstruknisme, Semiotika
Tokoh Utama
Marx, Habernas, Sausssure
Tujuan
Menyikap kepentigan-kepentingan tersembunyi, mengekspos kontradiksi, memungkinkan bertambahnya kesadaran berkat informasi, menggantikan ideology dengan masukan-masukan ilmiah; Perubahan sosial
Sifat Pengetahuan
Masukan-masukan struktural atau historis yang dapat mengungkapkan adanya berbagai konradiksi
Kriteria Pelaksanaan
Penelitian
Konsistensi penggunaan teori; masiukan historis, interprestasi transcendental; basis bagi tindakan, perubahan dan mobilisasi sosial
Unit Analisis
Tanda-tanda
Jenis Penelitian
Analisis tekstual; Dekonstruksi Teks

Karakteristik Penelitian Komunikasi
Berdasarkan Paradigma Kritis (Gephart: 1999:3)
           Paradigma kritis berargumen melihat komunikasi dan proses yang terjadi di dalamnya haruslah dengan pandangan holistic. Hal ini dilakukan untuk menghindari konteks sosial yang akan menghasilkan distorsi yang serius. Dalam tabel berikut disajikan paradigm kritis penelitian komunikasi yang dikembangkan oleh Deddy N. Hidayat yang disadur oleh Eriyaanto (2005:32-33)
Tujuan Penelitian
Kritik sosial, Transformasi, Emansipasi, dan Pengutan sosial
Realitas
Historical realism. Realitas yang teramati merupakan realitas semu yang telah terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan-kekuatan sosial, budaya dan ekonomi politik.
Posisi Peneliti
·      Peneliti menempatkan diri sebagai aktivis, advokat, dan transformative intellectual
·      Nilai, etika, pilihan moral bahkan keberpihakan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari analisis
Cara Penelitian
·      Subjektif, Titik perhatian analisis pada penafsiran subjektif peneliti atas teks
·      Partisipatif, mengutamakan analisis komprehensif, kontekstual, dan multilevel analisis yang bisa dilakukan melalui penempatan diri sebagai aktivitas atau partisipan dalam proses transformasi sosial.
·      Kriteria kualitas penelitian; sejauh mana penelitian memperhatikan konteks historis sosial, budaya, ekonomi, dan politik dan teks berita
Paradigma Kritis Penelitian Komunikasi
(Sumber: Jurnal ISKI, Vol III 1999, hal 39-40 dalam “Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi”)

           Paradigma ini memandang bahwa realitas kehidupan sosial bukanlah realitas yang netral, tetapi dipengaruhi oleh kelompok ekonomi, politik, dan sosial. Oleh karena itu, konsentrasi analisis pada paradigm kritis adalah menemukan kekuatan yang dominan tersebut dalam memarjinalkan dan meminggirkan kelompok yang tidak dominan (Thomas S Popkewitz dalam Eriyanto, 2005:33).

         Media merupakan ruang di mana kelompok dominan menyebarkan pengaruhnya dengan memingirkan kelompok lain yang tidak dominan. Dalam penelitian kritis, tidak dapat dihindari unsur subjektivitas. Ketika menafsirkan suatu teks, pengalaman, latar belakang, budaya peneliti, pendidikan, afiliasi politik, bahkan keberpihakan mempengaruhi hasil interpretasi (W. Lawrence Newman dalam Eriyanto, 2005:34). Oleh karena itu, peneliti berbeda bisa jadi menghasilkan temuan dan penafsiran yang berbeda pula (Littlejohn dalam Eriyanto, 2005:34).

0 komentar:

Posting Komentar