Paradigma seringkali disebut sebagai
“basic belief system” merupakan acuan
yang mempresentasikan cara pandang terhadap realitas dan bagaimana
hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya. Pada perkembangannya, telah lahir
berbagai paradigm yang sama-sama mengajukan cara penetapan kebenaran mutlak dan
dengan berbagai alas an tertentu tidak dapat diterima oleh pihak-pihak lain.
Hal inilah yang menyebabkan timbul bermacam-macam arus pemikiran yang sering
kali bertentangan satu sama lainnya terutama dalam konteks perbincangan tentang
lahirnya pengetahuan.
Berdasarkan hal ini, dalam aktifitas
penelitian penetapan paradigm akan mempengaruhi peneliti dalam menentukan nuasa
kebenaran yang akan dicari. Di titik ini validitas sebuah penelitian akan
dibangun yang meninggikan derajat kebenaran dari analisis dari si peneliti.
Dengan kata lain validitas di sini dapat diukur melalui berbagai batasan-batasan
yang diambil dari sebuah paradigma. Lebih lanjut paradigm pada dasarnya
menjelaskan jawaban-jawaban atas pertanyaan seputar dimensi ontologis, epistemologis, dan metodologis.
|
Asumsi
|
Pertanyaan
|
Karakteristik
|
Implikasi
Praktis
|
|
Ontologis
|
Mempertanyakan hakikat dari
realitas
|
Realitas bersifat
subjektif dan
Majemuk; dilihat
Berdasarkan
Pandangan
Penelitian dan
informan
|
Menggunakan
Kutipan dan
Tema dengan
Kata-kata partisipan dan
Memberi bukti
Berbagai perspektif
(tinjauan pustaka)
|
|
Epistemologis
|
Mempertanyakan
Hubungan
Peneliti dengan
Yang diteliti
|
Peneliti harus
Berusaha
Mengurangi jarak
Terhadap yang
diteliti
|
Peneliti bekerja
Sama; menghabiskan waktu di
lapangan
Dengan informan,
Dan menjadi
“orang dalam”
|
|
Metodoligis
|
Mempertanyakan bagaimana proses
penelitiannya
|
Peneliti
Menggunakan
logika induktif,
Menelaah topic
Di dalam
Konteksnya; dan
Menggunakan
“emerging design”
(design darurat)
|
Peneliti bekerja dengan hal-hal
yang khusus
Sebelum generalisasi,
Menggambarkan
Secara detail konteks
Penelitian, secara
Terus-menerus merevisi
Pertanyaan berdasarkan
Pengalaman lapangan
|
Tabel Paradigma Penelitian Kualitatif
(Guba dan Lincoln dalam Creswell 1998:75)
Berdasarkan
permasalahan yang dibahas kerangka pemikiran yang dibangun, serta metode yang
digunakan dalam penelitian ini, maka dapat ditentukan bahwa paradigma
penelitian ini adalah paradigm kritis. Paradigma kritis mengizinkan
dilakukannya interpretasi oleh para penelitinya, agar mereka mampu keluar dari
cara pandang sempit dan berbasis ideologi yang biasa digunakan dalam memandang
fenomena sosial. Pada akhirnya, interpretasi semacam ini diharapkan mampu
mengurangi ketidakadilan dan kontradiksi yang terdapat dalam sebuah masyarakat
kapitalis terhadap sesuatu yang selam ini dianggap tidak dapat diubah.
Para pemikir
teori kritis memberikan perhatian lebih terhadap perubahan sifat tanda sebagai
fenomena sosial, yang pada gilirannya mempertahankan keobjektifan, dan
keintersubjektifan karakter dalam tatanan sosial (Gephart, 1999:8). Mereka
berusaha meneliti bagaimana berbagai tanda mempengaruhi kehidupan kita,
sementara di sisi lain tanda-tanda itu justru menjadi semakin jauh dari hal-hal
yang ditandai atau yang mereka rujuk.
Dalam tabel
berikut akan disajikan karakteristik dari penelitian komunikasi yang
melandaskan dari penelitian komunikasi yang melandaskan diri pada paradigm
kritis.
|
Asumsi
|
Dunia pada dasarnya terdiri dari berbagai kontradiksi atau
eksploitasi yang terstruktur dengan baik, yang dapat dikenali secara obyektif
hanya dengan mengurangi bisa ideologis.
|
|
Fokus utama
|
Usaha mencari kontradiksi-kontradiksi yang disembunyikan
oleh ideologis memberikan ruang terbuka bagi suara-suara yang semula tidak
terdengar
|
|
Teori-teori
Utama
|
Posmodernisme, Strukturalisme, Dekonstruknisme, Semiotika
|
|
Tokoh Utama
|
Marx, Habernas, Sausssure
|
|
Tujuan
|
Menyikap kepentigan-kepentingan tersembunyi, mengekspos
kontradiksi, memungkinkan bertambahnya kesadaran berkat informasi,
menggantikan ideology dengan masukan-masukan ilmiah; Perubahan sosial
|
|
Sifat Pengetahuan
|
Masukan-masukan struktural atau historis yang dapat
mengungkapkan adanya berbagai konradiksi
|
|
Kriteria Pelaksanaan
Penelitian
|
Konsistensi penggunaan teori; masiukan historis,
interprestasi transcendental; basis bagi tindakan, perubahan dan mobilisasi
sosial
|
|
Unit Analisis
|
Tanda-tanda
|
|
Jenis Penelitian
|
Analisis tekstual; Dekonstruksi Teks
|
Karakteristik Penelitian Komunikasi
Berdasarkan Paradigma Kritis (Gephart: 1999:3)
Paradigma
kritis berargumen melihat komunikasi dan proses yang terjadi di dalamnya
haruslah dengan pandangan holistic. Hal ini dilakukan untuk menghindari konteks
sosial yang akan menghasilkan distorsi yang serius. Dalam tabel berikut
disajikan paradigm kritis penelitian komunikasi yang dikembangkan oleh Deddy N.
Hidayat yang disadur oleh Eriyaanto (2005:32-33)
|
Tujuan Penelitian
|
Kritik sosial, Transformasi, Emansipasi, dan Pengutan
sosial
|
|
Realitas
|
Historical realism. Realitas yang teramati merupakan realitas
semu yang telah terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan-kekuatan sosial,
budaya dan ekonomi politik.
|
|
Posisi Peneliti
|
· Peneliti menempatkan diri sebagai
aktivis, advokat, dan transformative intellectual
· Nilai, etika, pilihan moral bahkan
keberpihakan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari analisis
|
|
Cara Penelitian
|
· Subjektif, Titik perhatian
analisis pada penafsiran subjektif peneliti atas teks
· Partisipatif, mengutamakan
analisis komprehensif, kontekstual, dan multilevel analisis yang bisa dilakukan
melalui penempatan diri sebagai aktivitas atau partisipan dalam proses
transformasi sosial.
· Kriteria kualitas penelitian;
sejauh mana penelitian memperhatikan konteks historis sosial, budaya,
ekonomi, dan politik dan teks berita
|
Paradigma Kritis Penelitian Komunikasi
(Sumber: Jurnal ISKI, Vol III 1999, hal 39-40 dalam
“Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi”)
Paradigma
ini memandang bahwa realitas kehidupan sosial bukanlah realitas yang netral,
tetapi dipengaruhi oleh kelompok ekonomi, politik, dan sosial. Oleh karena itu,
konsentrasi analisis pada paradigm kritis adalah menemukan kekuatan yang
dominan tersebut dalam memarjinalkan dan meminggirkan kelompok yang tidak
dominan (Thomas S Popkewitz dalam Eriyanto, 2005:33).
Media
merupakan ruang di mana kelompok dominan menyebarkan pengaruhnya dengan
memingirkan kelompok lain yang tidak dominan. Dalam penelitian kritis, tidak
dapat dihindari unsur subjektivitas. Ketika menafsirkan suatu teks, pengalaman,
latar belakang, budaya peneliti, pendidikan, afiliasi politik, bahkan
keberpihakan mempengaruhi hasil interpretasi (W. Lawrence Newman dalam
Eriyanto, 2005:34). Oleh karena itu, peneliti berbeda bisa jadi menghasilkan
temuan dan penafsiran yang berbeda pula (Littlejohn dalam Eriyanto, 2005:34).




0 komentar:
Posting Komentar