Kamis, 12 November 2015

Pengertian Kampanye menurut para Ahli

“Kampanye, Ujar Sweeney, Seperti sebuah perjalanan, yang dimulai dari satu titik, dan berakhir pada titik yang lain. Untuk sampai pada titik tujuan maka orang harus bergerak ke arah yang tepat. Di sini orang memerlukan peta yang dapat memandu dan menunjukkan arah yang harus ditempuh agar sampai ke tujuan. Perencanaan, lanjut Sweeney, adalah peta dalam perjalanan kampanye. (Shea, 1996)”[1]

            Alasan mengapa sebuah perencanaan harus dilakukan dalam sebuah kampanye. (Gregory, 2000; Simmons, 1990), yaitu
a.       Memfokuskan Usaha
b.      Mengembangkan sudut pandang berjangka waktu panjang.
c.       Meminimalisir Kegagalan
d.      Mengurangi Koflik
e.       Memperlancar kerjasama dengan pihak lain

Menurut WWF (The World Wide Fund for Nature) Indonesia, kampanye adalah alat untuk menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran, untuk meningkatkan kepedulian dan perubahan  perilaku dari target audiens. Kampanye juga dapat dilihat sebagai alat advokasi kebijakan untuk menciptakan tekanan public pada actor-aktor kunci, misalnya peneliti, ilmuwan, media massa dan pembuat kebijakan.[2]
Sedangkan secara pandangan komunikasi, kampanye memiliki definisi yang lain. Kampanye pada prinsipnya merupakan suatu proses kegiatan komunikasi individu atau kelompok yang dilakukan  secara terlembaga dan bertujuan untuk menciptakan suatu efek atau dampak tertentu.
Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye sebagai rangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu. Merujuk pada definisi ini, maka setiap aktivitas kampanye komunikasi setidaknya harus mengandung empat hal yang dikemukakan oleh Antar Venus (2004, hal7)
1.      Tindakan kampanye yang ditujukan untuk menciptakan efek atau dampak tertentu.
2.      Jumlah khalayak sasaran yang besar.
3.      Dipusatkan dalam kurun waktu tertentu.
4.      Melalui serangkaian tindakan komunikasi yang terorganisasi.
Beberapa ahli komunikasi mengakui bahwa definisi yang diberikan  Rogers dan Storey adalah yang paling popular dan dapat diterima di kalangan ilmuwan komunikasi (Grossberg, 1998; Snyder, 2002; Klingmann & Rommele, 2002). Hal ini didasarkan kepada dua alasan. Pertama, definisi tersebut secara tegas menyatakan bahwa kampanye merupakan wujud tindakan komunikasi, dan alasan kedua adalah bahwa definisi tersebut dapat mencakup keseluruhan proses dan fenomena praktik kampanye yang terjadi di lapangan.
Salah satu ahli kampanye yang mengembangkan model kampanye adalaah Leon Ostergaard, seorang teoritisi dan praktisi kampanye kawakan dari Jerman. Model rancangannya dikenal dengan ‘Model Kampanye Ostergaard’.
Menurut Ostergaard sebuah rancangan program kampanye untuk perubahan sosial yang tidak didukung oleh temuan-temuan ilmiah tidak layak untuk dilaksanakan. Alasannya karena program semacam itu tidak akan menimbulkan efek apapun dalam menanggulangi masalah sosial yang dihadapi. Karenanya, sebuah program kampanye hendaknya selalu dimulai dari identifikasi masalah yang jernih. Lankah ini disebut juga tahap prakampanye.
Komunikasi memiliki perang penting dalam terlaksananya kampanye Gerakan Pungut Sampah ini. Bagaimanapun juga, kampanye akan terlaksana secara baik apabila disampaikan dengan cara yang baik kepada masyarakat. Isi kampanye yang berkualitas akan menjadi titik balik apabila cara penyampaiannya tidak baik. Oleh karena itu, komunikasi merupakan hal yang sangat penting pada setiap pelaksanaan kampanye apapun.
Pelaksanaan kampanye juga terkait dengan bagaimana isi pesan itu disampaikan agar mengenai target audiensnya sehingga apabila diperoleh hasil yang diinginkan oleh pihak penyelenggara. Selain itu, kredibilitas juga mempengaruhi kelancaran sebuah kampanye. Sehingga kampanye yang dilaksanakan dapat memperoleh hasil yang maksimal dan memuaskan.
Dibalik kesuksesan setiap kampanye, selalu hadir para perancang pesan yang sensitif dan kreatif, ujar Rogers dan Synder. Para perancang pesan ini umumnya memiliki kepekaan dalam mengidentifikasi karakteristik khalayaknya dan memiliki kreatifitas dalam mendesain pesan sesuai ciri-ciri umum khalayak yang menjadi sasaran utama. Pada penyampaian pesan kampanye, ada tiga hal penting yang harus diingat, yaitu isi pesan, struktur pesan, dan pesan kampanye dan respon khalayak (Venus 2004: hal 71)
1.      Isi Pesan
Banyak hal yang terkait dengan isi pesan kampanye, seperti materi kampanye, pendekatan dalam menyampaikan kampanye, kreatifitas, pesan negatif pesan, dan sebagainya. Menurut penelitian, hal-hal seperti ilustrasi kejadian, visualisasi kejadian, fakta, dan kejadian bersejarah dalam sebuah pesan sangat mempengaruhi perubahan sikap orang yang menerima pesan tersebut. Pada sisi lain, pelaku kampanye juga harus melihat isi pesan dari pendekatan emosional, rasa takut, kreativitas, dan humor saat penyampaian pesan.

2.      Struktur Pesan
Struktur Pesan merujuk pada bagaimana unsur-unsur pesan diorganisasikan. Secara umum ada tiga aspek yang terkait langsung dengan pengorganisasian pesan kampanye yakni sisi pesan (message sidedness), Susunan penyajian (Order presentation), dan pernyataan kesimpulan (drawing conclusion)
3.      Pesan Kampanye dan Respon khalayak
Respon khalayak terhadap pesan kampanye dipengaruhi oleh proses penerimaan dan pengelolaan pesan atau informasi yang dilakukan khalayak. Oleh karena itu, pesan harus memiliki kemampuan tertentu yang dapat mendorong khalayak untuk memberikan respon positif sesuai harapan pelaku kampanye. Beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian misalnya penekanan terhadap apa yang dipersepsi orang, bagaimana pesan tersebut dapat menarik perhatian khalayak, serta bagaimana informasi dalam pesan itu disimpan dan diingat oleh penerimanya.
Sebuah kampanye yang dirancang dengan sedemikian baik, pasti akan menjadi faktor penunjang keberhasilan `dalam pelaksanaan kampanye tersebut. Namun, sebaik apapun kampanye itu dirancang dan dibuat pasti akan mengalami hambatan yang terjadi pada saat pelaksanaan kampanye tersebut, baik itu hambatan internal atau eksternal. Berikut akan dipaparkan beberapa pendapat ahli mengenai faktor penunjang dan penghambat dalam sebuah kampanye (Venus 2004: hal.130)

Faktor penghambat dan keberhasilan kampanye menurut Hyman dan Sheatsley :
1.      Pada kenyataannya memang selalu ada sekelompok khalayak yang ‘tidak akan tahu’ tentang isi pesan-pesan kampanye yang ditujukan kepada mereka. Ketidaktahuan itu bisa disebabkan berbagai faktor, mulai dari ketidakseriusan memperhatikan pesan sehingga ketidakmampuan memahami isi pesan.
2.      Kemungkinan individu memberikan tanggapan pada pesan-pesan kampanye akan meningkat bila ketertarikan dan keterlibatan mereka terhadap isu yang diangkat juga meningkat. Ini artinya jika sedikit orang yang tertarik maka akan sedikit pula yang memberikan respons. Bila konstruksi pesan kampanye yang dibuat tidak cukup menarik perhatian maka akan gagal. Karena itu buatlah pesan yang mencuri perhatian khalayak.
3.      Orang akan membaca mempersepsi informasi yang mereka terima berdasarkan nilai-nilai dan kepercayaan yang dimiliki. Ini artinya orang akan memberikan respons yang berbeda terhadap pesan yang disampaikan kepada mereka.
4.      Kemungkinan individu untuk menerima informasi atau gagasan baru akan meningkat bila informasi tersebut sejalan dengan sikap yang telah ada. Dengan kata lain orang cenderung menghindari informasi yang tidak sesuai dengan apa yang telah diyakini.
Setelah melakukan analisa terhadap lebih dari dua puluh kampanye yang dilakukan di AS, Rogers dan Storey menyimpulkan bahwa untuk suksesnya sebuah kampanye biasanya ditandai oleh empat hal:
1.      Penerapan pendekatan yang bersifat strategis dalam menganalisakan khalayak sasaran kampanye, dalam hal ini termasuk analisis sejauh mana pengetahuan khalayak tentang topik, dan bagaimana persuasi mereka terhadapnya.`
2.      Pesan-pesan kampanye dirancang secara segmentif sesuai dengan jenis-jenis khalayak yang dihadapi. Segmentasi tersebut dapat berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, budaya, manfaat prodak, dan gagasan.
3.      Penetapan tujuan yang realitis.
4.      Akhirnya kampanye lewat media akan lebih mudah meraih keberhasilan bila disertai dengan penyebaran personel kampanye untuk menindaklanjuti secara interpersonal.




[1] Venus, Antar. 2004. Manajeman Kampanye : Panduan Teoritis dan Praktis dalam mengefektifkan kampanye Komunikasi. Bandung : Simbiosa Rekatama

[2] http//www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/iklim_dan_energi/solusikami/kampanye/ (kamis 13 Juni 2013)

0 komentar:

Posting Komentar