1.1
Kerangka
Pemikiran Iklan Prabowo Subianto
Iklan di media
massa merupakan salah satu sarana simbolik yang memungkinkan terjadinya proses
penyampaian symbol-simbol. Simbol-simbol tersebut dapat dilihat dalam bentuk
konstruksi.
Iklan telah menjadi
salah satu komunikasi massa yang paling mudah dikenal dan paling menarik
perhatian dengan hampir seluruh anggota masyarakat terpapar padanya. Iklan
telah berhasil mendunia dan menjadi sangat menakjubkan saat ini. Iklan yang
semula hanya dianggap sebagai suatu proses “pengambilan atau pemberi perhatian
terhadap sesuatu “ telah mencapai titik dimana iklan seolah-olah menentukan
segala-galanya. Dunia iklan berhasil berkembang di luar bidang produk industry,
sebagai profesi, ilmu dan juga seni (an art and a science) (kusmiati, 1999:101)
Berry dan Donrly mengatakan bahwa melalui kegiatan
periklanan, target yang diharapkan adalah bahwa konsumen mengenal karakteristik
produk, memahami fungsi serta keunggulan produk itu, lalu menjadi yakin akan
keuntungannya bila memakai produk itu. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan
bahwa tujuan periklanan bukan saja untuk memperkenalkan produk atau jasa,
tetapi sekaligus mempersuasi khalayak untuk menggunakan produk atau jasa yang
ditawarkan.
Kehadiran televisi di zaman modern ini, menjadikan televisi
sebagai primadona dalam beriklan. Iklan televisi telah menjadi kekuatan baru
yang menuntut kreativitas dalam menampilkan format iklan agar lebih menarik
dengan berbagai bentuk yang “memaksa” pemirsa untuk mencari makna apa yang ada
dibalik pesan-pesan yang disampaikan.
Televisi sebagai media massa yang tidak hanya unggul dalam
penggunaan suara (audio) tetapi juga memperlihatkan gambar (visual) mempunyai
daya tarik yang demikian hebat untuk pemirsanya. Karena itu, tidak dapat
dipungkiri, iklan, yang mendapat porsi 20% mau tidak mau pemirsa akan menerima
terpaan iklan yang juga besar. Artinya, iklan juga akan membawa pengaruh, baik
langsung maupun tidak langsung kepada pemirsa televisi.
Media massa saat ini kian marak jenisnya memberikan informasi
yang diharapkan dapat pula memberi hiburan bagi audiens tidaklah tampil dengan
polosnya. Isi media merupakan hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai
perangkat dasarnya. Sedangkat bahasa bukan saja alat merepresentasikan
realitas, namun juga bisa membentuk relief seperti apa yang diciptakan bahasa
tentang realitas tersebut. (Sobur, 2006:88)
Konstruksi adalah susunan (modul, tata letak) suatu bangunan
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1998). Sementara dalam kamus ilmu social istilah
konstruksi diartikan sebagai pembentukan suatu realitas, nilai yang dibangun
berdasarkan sistem dan kepentingan yang ada didalam masyarakat.
Istilah konstruksi realitas menjadi terkenal sejak
diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman (1966) melalui bukunya
The Social Construction of Reality: A Treatise in The Sociological of
Knowledge. Berger dan Luckman memulai penjelasan realitas sosial dengan
memisahkan pemahaman “Kenyataan” dan “Pengetahuan”. Mereka mengartikan realitas
sebagai kualitas yang terdapat didalam realitas-realitas, yang diakui memiliki
keberadaan (being) yang tidak tergantung pada kehendak kita sendiri. Sementara
pengetahuan didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata
(real) dan memiliki karakteristik secara spesifik.
Realitas menurut Berger tidak dibentuk secara ilmiah, tetapi
juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan tetapi dibentuk dan dikonstruksikan.
Dengan pemahaman ini realitas berwujud ganda/plural. Setiap orang punya
konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas, berdasarkan pengalaman,
preferensi, pendidikan, dan lingkungan social yang dimiliki masing-masing
individu.
Persepsi terhadap realitas didasarkan pada perspektif
individu dalam memaknai stimulasi yang menerpanya. Persepsi menciptakan suatu
konstruksi dalam benak individu menjawab realitas yang ada dan konstruksi
tersebut menuntun individu dalam berinteraksi dengan sekitarnya. (Sobur,
2006:91)
Secara struktural iklan terdiri dari tanda-tanda (signs),
yaitu unsur terkecil bahasa yang terdiri dari penanda (signifier), yaitu
sesuatu yang bersifat materi berupa gambar, foto, atau ilustrasi, dan penanda,
yaitu konsep (signified) atau makna (meaning) yang ada di balik penanda
tersebut, yang semuanya dapat digunakan untuk melukiskan realitas atau,
sebaliknya, memalsukan realitas. Sebuah iklan biasanya terdiri dari tiga elemen
tanda, yaitu gambar objek atau produk yang diiklankan (object), gambar
benda-benda di sekitar objek yang memberikan konteks pada objek tersebut
(context), serta tulisan atau teks yang satu sama lainnya saling mengisi dalam
menciptakan ide, gagasan, konsep atau makna sebuah iklan.
Selain iklan mempunyai tingkatan-tingkatan makna yang
kompleks, mulai dari makna yang eksplisit, yaitu makna berdasarkan apa yang
tampak (denotative), serta makna lebih mendalam, yang berkaitan dengan
pemahaman-pemahaman ideology dan cultural (connotative). Dalam Kamus Umum
Bahasa Indonesia simbol atau lambang adalah semacam tanda, lukisan, perkataan,
lencana, dan sebagainya, yang menyatakan sesuatu hal, atau mengandung maksud tertentu
(Sobur, 2003:153). Maka simbol tidak sama dengan tanda, tetapi simbol merupakan
bagian dari tanda. Tanda berkaitan dengan objek, sedangkan simbol memerlukan
proses pemaknaan yang lebih intensif setelah menghubungkan dengan objek.
Dan untuk memiliki makna denotatif dan makna tambahan
konotatif adalah dengan menggunakan penerapan model Roland Barthes, yaitu:
1. Pesan
Linguistik adalah pesan yang terkandung dalam nuansa khas muncul dari semua
kata dan kalimat dalam iklan.
2. Pesan
Ikonik yang terkodekan adalah konotasi yang muncul dalam tanda non verbal
(visual) iklan yang hanya dapat berfungsi jika dikaitkan dengan sistem tanda
yang lebih luas dalam masyarakat.
3. Pesan
Ikonik tak terkodekan adalah denotasi “harfiah” dalam tanda non verbal (visual)
iklan yang merupakan pemahaman langsung dari gambar dan pesan dalam iklan,
tanpa mempertimbangkan kode social yang lebih luas (Sobur, 2003:118-119).
Mitos adalah cerita yang digunakan sesuatu kebudayaan untuk
menjelaskan atau memahami beberapa aspek dari realitas atau alam. Bagi Barthes,
mitos merupakan cara berpikir dari suatu kebudayaan tentang sesuatu, cara untuk
mengkonseptualisasikan atau memahami sesuatu. Bila konotasi merupakan pemaknaan
tatanan kedua dari penanda. Mitos merupakan pemaknaan tatanan kedua dari
pertanda.
Masyarakat yang modern sering kali kembali atau sebagian
masih masih hidup di alam tradisional. Buktinya, kini lahir mitos-mitos baru,
misalnya mitos terdapat pada pembangunan itu sendiri. Pandangan yang terjadi
pada masyarakat modern saat ini sering salah kaprah. Karena merasa modern atau
rasional mereka bisa beranggapan bahwa mereka terlepas dari pengaruh mitologis.
Tapi barangkali saja mereka bisa tidak percaya pada suatu jenis mitos-mitos,
namun terperangkap dalam mitos-mitos lain.
Masyarakat yang nampaknya serba logis dan praktis, kerap kali
dapat juga berbuat yang tidak logis dan praktis. Mitos-mitos yang diduga
dipercayai oleh orang-orang modern, sebenarnya lebih menyerupai dogma atau
mitos-mitos yang dipergunakan dalam ungkapan (Parerea, 1986:272-273). Mitos
adalah cerita yang digunakan suatu kebudayaan untuk menjelaskan atau memahami
beberapa aspek dari realitas atau alam. Baginya, mitos mitos merupakan cara
berpikir dari suatu kebudayaan tentang sesuatu, cara untuk mengkonseptualisasikan
atau memahami sesuatu. Barthes memikirkan mitos sebagai mata rantai dari
konsep-konsep terkait (Fiske,2004:121)





0 komentar:
Posting Komentar