Minggu, 01 November 2015

Prabowo, KONSTRUKSI SIKAP PRABOWO DALAM IKLAN KAMPANYE PEMILIHAN PRESIDEN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Konteks Penelitian Iklan Prabowo
Di ajang pemilih presiden terutama pemilihan presiden tahun 2014-2019 sekarang, Media masaa, terutama televisi memiliki peranan sangat penting salah satunya sebagai pembentukan citra kandidat calon presiden. Pembentukaan citra dimaksudkan sebagai pembeda antara kandidat, pembeda yang positif dan unggul yang bisa tertanam dibenak masyarakatnya.
Sebagai seorang calon pemimpin terutama pemimpin bangsa yang memiliki ratusan juta penduduk dan Negara kepulauan. Kemampuan kepemimpinan yang tepat mutlak dibutuhakan. Sehingga citra positif dan unggul calon pemimpin bangsa atau calon presiden mutlak harus dimimiliki sebagai sesuatu yang akan ditawarkan kepada penduduknya atau peneliti menyebutnya sebagai yang dijual.
Pembentukan citra atau konstruksi calon presiden menjadi pekerjaan tim sukses setiap kandidat calon presiden. Konstruski lebih jelas lagi menurut konteks ilmu sosial diartikan sebagai pembentukan suatu realitas, nilai yang dibangun berdasarkan sistem dan kepentingan yang ada didalam masyarakat.
Sehingga konstruksi tentang sesuatu sarat akan manipulasi dan menggiring opini publik. Hal tersebut sah saja terutama disini dalam bahasan kepemimpinan dalam memimpin politik Negara. Dalam politik satu hal selalu memiliki sudut pandang yang berbeda karena ideologi setiap orang berbeda-beda apalagi dalam bernegara yang memiliki jumlah penduduk yang banyak.
Hal yang menarik disini kenapa dianggap perlu dibahas oleh peneliti adalah bagaimana setiap kandidat dijual atau yang dimaksud disini dikonstruski citra kepemimpinanya oleh setiap kandidat dan tim suksesnya. Terutama yang dibahas disini adalah khusus kandidat calon presiden prabowo.
Menurut Dr. Kartini Kartono dalam bukunya Pemimpin dan Kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan kekuatan aspirasional, kekuatan semangat, dan kekuatan moral yang kreatif, yang mampu mempengaruhi para anggota untuk mengubah sikap, sehingga mereka menjadi konform dengan keinginan pemimpin.
Sedangkan pemimpin ringkasnya menurutnya diartikan, pemimpin merupakan inisiator, motivator, stimulator, dinamisator, dan inovatornya. Peneliti disini memaknai jadi kepemimpinan sebagai sikap yang diyakininya hasil dari aspirasi masyarakatnya dan pemimpin sebagai orang yang pertama yang didepan yang mengaruhi dan membimbing pengikutnya untuk mencapai tujuannya secara bersama.
There are not bad soldier, only bad officer. Organisasi baik swasta maupun pemerintahan, keberhasilan berada pada pemimpinnya dan kepemimpinannya. Sementara itu, bawahan merupakan “perpanjangan” pelaksanaan ide, strategi, dan kebijaksanaan pemimpinnya.
Hal yang akan menarik selanjutnya adalah target masyarakat Indonesia mana yang akan ditargetkan untuk kampanye iklan kandidat presiden prabowo dalam mengkampanyekan iklannya. Melihat Jumlah penduduk Negara Republik Indonesia ratusan juta tentu memiliki banyak keragaman dari mulai usia, pendidikan, status, agama, suku, kepribadian setiap individu hingga terutama ideology.
Banyak masyarakat yang masih menyukai ideology dan cara memimpin presiden terdahulunya seperti presiden soeharto dengan sikap otoriter atau tangan besinya. Banyak juga yang membencinya dan lebih menyukai kepemimpina yang demokratis. Ini terlihat ketika pemilihan presiden saat sekarang ketika masyarakat mengaspirasikan pendapatnya. Sehingga hal tersebut menjadi acuan para kandidat dan tim sukses untuk meramu konstruksi citra kepemimpinan calon presiden dengan tepat.
Meramu konstruksi citra diri calon presiden juga harus mempertimbangkan acuan ideology bangsa dalam hal ini adalah ideology bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Kandidat dan tim sukses harus bisa menyesuaikan konstruksinya citranya antara ideology dengan kesesuaian jaman sekarang. Karena tidak ada cara memimpin terbaik dalam organisasi yang baik adalah sesuai kebutuhan dan sesuai jamannya.
Pembentukkan konstruksi dalam media massa televisi. Iklan televisi menjadi salah satu kunci pentingnya. Tengok saja data iklan yang yang masuk menurut Al Ries dan Laura Ries mencatat bahwa rata-rata media massa dalam hal ini televisi menayangkan sebanyak 273 buah iklan televisi perharinya. Itu berarti setiap harinya jika durasi iklan tersebut 30 detik maka seorang pemirsa televisi menonton setara dengan menonton satu film penuh.
Salah satu media yang digunakan dalam beriklan adalah televisi. Dibandingkan dengan media lain, televisi memiliki kemampuan lebih, Iklan televisi mengandung unsur suara, gambar, dan gerak (audio visual).
Selain itu memiliki jangkauan yang luas, Televisi juga dianggap lebih komunikatif oleh pemasang iklan karena 83-87% dari segala sesuatu yang masuk ke dalam otak manusia bersifat visual dan 11% masuk dalam bentuk pendengaran (cole, 1997:85).
Dalam dunia iklan politik, Menurut Danesi dalam bukunya Pengantar Memahami Semiotika Media. Tekstualitas iklan biasanya dibangun ke dalam kampanye iklan. Sebuah kampanye iklan bisa didefinisikan sebagai penciptaan sistematis sederetan iklan dan komersil yang sedikit berbeda masing-masingnya dan didasarkan atau kesamaan tema, karakter, jingle dan sebagainya. Sebuah kampanye iklan bisa dibandingkan dengan bentuk tema dan variasi pada musik-ada satu tema dengan banyak variasi. Agar konstruksi citra yang dibangun bisa dengan baik terbentuk.
Seperti halnya Iklan kampanye yang akan dibahas dalam penelitian ini. Konstruski Sikap Prabowo dalam iklan kampanye pemilihan presiden 2014-2019 denga tema Indonesia bangkit. Dalam tema Indonesia Bangkit terdiri dari dua iklan yang terdapat perbedaan pada variasi musik dan visual gambar.
Sikap adalah kecenderungan bertindak, terdiri dari kognisi (pemahaman), afeksi (perasaan) dan konasi (kencenderungan bertindak). Seperti kata Secord & Backman (1964) mendefinisikan sikap sebagai ‘keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya’.
Mengapa sikap, sikap seperti penjelasan di atas akan menjadi acuan yang akan ditawarkan oleh kandidat calon presiden dalam hal ini Prabowo. Ketika dia terpilih menjadi pemimpin Presiden RI akan bertindak dengan kepemimpinan seperti apa.
Apa yang yang dikatakan dan dilakukan dalam iklan kampanye tersebut menjadi kecenderungan indikator seperti apa nanti kecenderungan perilaku nanti dalam pemerintahan. Hal tersebut menjadi penting dianalisis apalagi sebagai warga Negara Indonesia.
Hal yang menariknya adalah target penduduk Indonesia mana yang dituju oleh iklan Kampanye Prabowo sehingga menarik bagaimana kandidat calon presiden Prabowo dan Tim Suksenya mengkonstruksi citra calon presiden Prabowo-nya.
Analisis tingkat awal mengapa peneliti memilih iklan Kampanye pilpres Prabowo dibandingkan pesaingnya Jokowi. Kampanye Iklan yang ditawarkan kedua kandidat ternyata menggunakan pendekatan yang sangat berbeda. Prabowo menganggap kepemimpinan berasal dari atas dari sebuah Negara sedangakan Jokowi menggunakan pendekatan dari bawah dari Rakyat.
Kedua kandidat memiliki pendekatan dan keistimewaan masing-masing tetapi peneliti memilih kampanye iklan Prabowo selain karena pendekatan yang menilai dari atas atau sebagai suatu Negara. Hal menarik lainnya adalah karena Prabowo berasal atau erat dengan kepiminan orde baru jaman presiden Soeharto. Sebagai seoarang Jenderal dan menantu mantan Presiden Soeharto. Target penduduk Indonesia mana nanti akan yang dituju apakah masih erat dengan masyarakat yang masih loyal dengan dengan jaman orba atau menggunakan pendekatan yang baru.
Yang ketiga, dari survei-survei tentang pencalonan Presiden, pesaingnya yaitu Jokowi selalu unggul, Jokowi menjadi kandidat calon presiden yang selalu unggul dari berbagai survey, ini menjadi menarik tentang penggunaan strategi yang digunakan Prabowo untuk mengalahkannya.
Divisualisasikan pada iklan kampanye pemilihan Presiden Prabowo dengan tema Indonesia bangkit. Prabowo diibaratkan burung garuda yang terbang mengintari keindahan dan kekayaan alam Indonesia menjadi harapan untuk kembali bangkit menjadi macan Asia. Selanjutnya visual Seorang pemimpin pasukan yang diangkat oleh anak buahnya dengan perasaan senang dan menampilkan juga ketika Prabowo mengajar seorang anak dan memanen sebuah panen dengan beberapa penduduk Indonesia daerah tersebut. Prabowo diibaratkan memiliki pengetahuan luas (internasional) dan Cerdas.
Visualisasi selanjutnya Prabowo menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh penduduk Indonesia dari Sabang hingga Merauke dengan menampilkan kecerian gambar-gambar ketika berinteraksi dengan Prabowo. Kemudian menampilkan Visualisasi kharismawatik dengan kewibawaannya, gambar berupa Menghormat secara santun kepada siapapun terutama penduduk Indonesia yang ditemuinya.
Scene selanjutnya Visualiasi dengan menyatakan ketegasan walaupun dekat dengan masyarakat Indonesia tetapi Tegas dalam sesuatu terlihat dalam gambar Prabowo memimpin suatu pasukan dirigen iringan musik
Pada akhir Scene menunjukkan semua masyarakat Indonesia memilih Prabowo, menampilkan gambar semua senang dengan kehadiran Prabowo. Pada iklan versi lainnya yang berbeda terletak pada musik dan penambahan gambar. Musik menyanyikan lagu penegasan kita dukung bersama dan kita pilih bersama. Gambar penambahan berupa penambahan gambar sosok Hatta rajasa yang mendukung Prabowo, Masyarakat Indonesia yang mendukung yang menamakan sahabat prabowo yang mengartikan penegasan dari sikap iklan versi awal.
Makna atas kampanye iklan tersebut dapat dianalisis menggunakan analisis Semiotika. Semiotika adalah suatu model yang memahami dunia sebagai sistem hubungan yang dimiliki unit dasar yang disebut dengan ‘tanda’. Dengan demikian semiotik mempelajari hakikat tentang keberadaan suatu tanda. (Bugin 2007:162).
Ketertarikan selanjutnya untuk diteliti adalah bagaimana konstruksi sikap Prabowo dalam kampanye iklan pemilihan presiden 2014-2019 dengan tema Indonesia Bangkit dengan melihat tanda-tanda yang mewakilinya. Konstruksi akan suatu realitas seperti dibahas di atas sebelumnya bisa dengan sengaja dimanipulasi  dengan tujuan tertentu termasuk iklan kampanye pilpres Prabowo ini tentang pembentukan Sikap calon presiden sebagai sesuatu yang ditawarkan atau dijual kepada masyarakat Indonesia agar memilihnya pada pemilu sekarang.
Tidak ada kepemimpinan yang terbaik karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Kepemimpinan yang sesuai dan dibutuhkan jamannyalah yang bisa dijadikan acuan. Maka dalam konstruksi pembentukan citra sikap prabowo dalam iklan kampanye pilpres 2014-2019 dengan tema Indonesia Bangkit dapat menentang mitos yang berkembang. Menurut Barthes, mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam. Iklan tersebut membuat sesuatu yang dianggap “tidak benar” sampai waktu dapat dibuktikan bahwa ia “benar”.
Media punya peran dalam pembentukan konstruksi ide tersebut. Media bisa terus-menerus menyebarkan ide gagasan tersebut dalam tayangannya sehingga bisa mempengaruhi penonton yang lama-kelamaan bisa mempengaruhi bahwa hal tersebut sebuah realitas yang benar. Media hanya alat. Tergantung siapa dibaliknya atau pemakainya.
Antonio Gramsci (Sobur, 2006:30) melihat media sebagai ruangan di mana berbagai ideologi diprepresentasikan. Ini berarti, di satu sisi media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa, alat legitimasi, dan kontrol atas wacana publik. Namun di sisi lain media juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan. Media bisa menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi dominan bagi kepentingan kelas dominan, sekaligus juga bisa menjadi alat instrument perjuangan bagi kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. Dalam iklan kampanye pemilihan presiden Prabowo ini terlihat bagaimana media dijadikan sebagai sarana penyebaran ideologi penguasa, alat legitimasi, dan kontrol atas wacana publik. Media membangun kultur dan ideologi dominan bagi kepentingan dominan. Seluruh proses pengemasan pesan baik pesan verbal (kata, kalimat) maupun nonverbal (tindakan, setting) yang terkandung dalam iklan tersebut akan menjadi menarik sesuai ideologi yang diterapkan di atas.



0 komentar:

Posting Komentar