BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Konteks
Penelitian Iklan Prabowo
Di
ajang pemilih presiden terutama pemilihan presiden tahun 2014-2019 sekarang,
Media masaa, terutama televisi memiliki peranan sangat penting salah satunya
sebagai pembentukan citra kandidat calon presiden. Pembentukaan citra
dimaksudkan sebagai pembeda antara kandidat, pembeda yang positif dan unggul
yang bisa tertanam dibenak masyarakatnya.
Sebagai
seorang calon pemimpin terutama pemimpin bangsa yang memiliki ratusan juta
penduduk dan Negara kepulauan. Kemampuan kepemimpinan yang tepat mutlak
dibutuhakan. Sehingga citra positif dan unggul calon pemimpin bangsa atau calon
presiden mutlak harus dimimiliki sebagai sesuatu yang akan ditawarkan kepada
penduduknya atau peneliti menyebutnya sebagai yang dijual.
Pembentukan
citra atau konstruksi calon presiden menjadi pekerjaan tim sukses setiap
kandidat calon presiden. Konstruski lebih jelas lagi menurut konteks ilmu sosial
diartikan sebagai pembentukan suatu realitas, nilai yang dibangun berdasarkan
sistem dan kepentingan yang ada didalam masyarakat.
Sehingga
konstruksi tentang sesuatu sarat akan manipulasi dan menggiring opini publik.
Hal tersebut sah saja terutama disini dalam bahasan kepemimpinan dalam memimpin
politik Negara. Dalam politik satu hal selalu memiliki sudut pandang yang
berbeda karena ideologi setiap orang berbeda-beda apalagi dalam bernegara yang
memiliki jumlah penduduk yang banyak.
Hal
yang menarik disini kenapa dianggap perlu dibahas oleh peneliti adalah
bagaimana setiap kandidat dijual atau yang dimaksud disini dikonstruski citra kepemimpinanya
oleh setiap kandidat dan tim suksesnya. Terutama yang dibahas disini adalah
khusus kandidat calon presiden prabowo.
Menurut
Dr. Kartini Kartono dalam bukunya Pemimpin dan Kepemimpinan. Kepemimpinan
merupakan kekuatan aspirasional, kekuatan semangat, dan kekuatan moral yang
kreatif, yang mampu mempengaruhi para anggota untuk mengubah sikap, sehingga
mereka menjadi konform dengan keinginan pemimpin.
Sedangkan
pemimpin ringkasnya menurutnya diartikan, pemimpin merupakan inisiator,
motivator, stimulator, dinamisator, dan inovatornya. Peneliti disini memaknai
jadi kepemimpinan sebagai sikap yang diyakininya hasil dari aspirasi
masyarakatnya dan pemimpin sebagai orang yang pertama yang didepan yang
mengaruhi dan membimbing pengikutnya untuk mencapai tujuannya secara bersama.
There
are not bad soldier, only bad officer. Organisasi baik swasta maupun
pemerintahan, keberhasilan berada pada pemimpinnya dan kepemimpinannya.
Sementara itu, bawahan merupakan “perpanjangan” pelaksanaan ide, strategi, dan
kebijaksanaan pemimpinnya.
Hal
yang akan menarik selanjutnya adalah target masyarakat Indonesia mana yang akan
ditargetkan untuk kampanye iklan kandidat presiden prabowo dalam
mengkampanyekan iklannya. Melihat Jumlah penduduk Negara Republik Indonesia
ratusan juta tentu memiliki banyak keragaman dari mulai usia, pendidikan,
status, agama, suku, kepribadian setiap individu hingga terutama ideology.
Banyak
masyarakat yang masih menyukai ideology dan cara memimpin presiden terdahulunya
seperti presiden soeharto dengan sikap otoriter atau tangan besinya. Banyak
juga yang membencinya dan lebih menyukai kepemimpina yang demokratis. Ini
terlihat ketika pemilihan presiden saat sekarang ketika masyarakat
mengaspirasikan pendapatnya. Sehingga hal tersebut menjadi acuan para kandidat
dan tim sukses untuk meramu konstruksi citra kepemimpinan calon presiden dengan
tepat.
Meramu
konstruksi citra diri calon presiden juga harus mempertimbangkan acuan ideology
bangsa dalam hal ini adalah ideology bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Kandidat
dan tim sukses harus bisa menyesuaikan konstruksinya citranya antara ideology
dengan kesesuaian jaman sekarang. Karena tidak ada cara memimpin terbaik dalam
organisasi yang baik adalah sesuai kebutuhan dan sesuai jamannya.
Pembentukkan
konstruksi dalam media massa televisi. Iklan televisi menjadi salah satu kunci
pentingnya. Tengok saja data iklan yang yang masuk menurut Al Ries dan Laura
Ries mencatat bahwa rata-rata media massa dalam hal ini televisi menayangkan
sebanyak 273 buah iklan televisi perharinya. Itu berarti setiap harinya jika
durasi iklan tersebut 30 detik maka seorang pemirsa televisi menonton setara
dengan menonton satu film penuh.
Salah
satu media yang digunakan dalam beriklan adalah televisi. Dibandingkan dengan
media lain, televisi memiliki kemampuan lebih, Iklan televisi mengandung unsur
suara, gambar, dan gerak (audio visual).
Selain
itu memiliki jangkauan yang luas, Televisi juga dianggap lebih komunikatif oleh
pemasang iklan karena 83-87% dari segala sesuatu yang masuk ke dalam otak
manusia bersifat visual dan 11% masuk dalam bentuk pendengaran (cole, 1997:85).
Dalam
dunia iklan politik, Menurut Danesi dalam bukunya Pengantar Memahami Semiotika
Media. Tekstualitas iklan biasanya dibangun ke dalam kampanye iklan. Sebuah
kampanye iklan bisa didefinisikan sebagai penciptaan sistematis sederetan iklan
dan komersil yang sedikit berbeda masing-masingnya dan didasarkan atau kesamaan
tema, karakter, jingle dan sebagainya. Sebuah kampanye iklan bisa dibandingkan
dengan bentuk tema dan variasi pada musik-ada satu tema dengan banyak variasi. Agar
konstruksi citra yang dibangun bisa dengan baik terbentuk.
Seperti
halnya Iklan kampanye yang akan dibahas dalam penelitian ini. Konstruski Sikap
Prabowo dalam iklan kampanye pemilihan presiden 2014-2019 denga tema Indonesia
bangkit. Dalam tema Indonesia Bangkit terdiri dari dua iklan yang terdapat
perbedaan pada variasi musik dan visual gambar.
Sikap
adalah kecenderungan bertindak, terdiri dari kognisi (pemahaman), afeksi
(perasaan) dan konasi (kencenderungan bertindak). Seperti kata Secord &
Backman (1964) mendefinisikan sikap sebagai ‘keteraturan tertentu dalam hal
perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi)
seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya’.
Mengapa
sikap, sikap seperti penjelasan di atas akan menjadi acuan yang akan ditawarkan
oleh kandidat calon presiden dalam hal ini Prabowo. Ketika dia terpilih menjadi
pemimpin Presiden RI akan bertindak dengan kepemimpinan seperti apa.
Apa
yang yang dikatakan dan dilakukan dalam iklan kampanye tersebut menjadi
kecenderungan indikator seperti apa nanti kecenderungan perilaku nanti dalam
pemerintahan. Hal tersebut menjadi penting dianalisis apalagi sebagai warga
Negara Indonesia.
Hal
yang menariknya adalah target penduduk Indonesia mana yang dituju oleh iklan
Kampanye Prabowo sehingga menarik bagaimana kandidat calon presiden Prabowo dan
Tim Suksenya mengkonstruksi citra calon presiden Prabowo-nya.
Analisis
tingkat awal mengapa peneliti memilih iklan Kampanye pilpres Prabowo dibandingkan
pesaingnya Jokowi. Kampanye Iklan yang ditawarkan kedua kandidat ternyata
menggunakan pendekatan yang sangat berbeda. Prabowo menganggap kepemimpinan
berasal dari atas dari sebuah Negara sedangakan Jokowi menggunakan pendekatan
dari bawah dari Rakyat.
Kedua
kandidat memiliki pendekatan dan keistimewaan masing-masing tetapi peneliti
memilih kampanye iklan Prabowo selain karena pendekatan yang menilai dari atas
atau sebagai suatu Negara. Hal menarik lainnya adalah karena Prabowo berasal
atau erat dengan kepiminan orde baru jaman presiden Soeharto. Sebagai seoarang
Jenderal dan menantu mantan Presiden Soeharto. Target penduduk Indonesia mana
nanti akan yang dituju apakah masih erat dengan masyarakat yang masih loyal
dengan dengan jaman orba atau menggunakan pendekatan yang baru.
Yang
ketiga, dari survei-survei tentang pencalonan Presiden, pesaingnya yaitu Jokowi
selalu unggul, Jokowi menjadi kandidat calon presiden yang selalu unggul dari
berbagai survey, ini menjadi menarik tentang penggunaan strategi yang digunakan
Prabowo untuk mengalahkannya.
Divisualisasikan
pada iklan kampanye pemilihan Presiden Prabowo dengan tema Indonesia bangkit.
Prabowo diibaratkan burung garuda yang terbang mengintari keindahan dan
kekayaan alam Indonesia menjadi harapan untuk kembali bangkit menjadi macan
Asia. Selanjutnya visual Seorang pemimpin pasukan yang diangkat oleh anak
buahnya dengan perasaan senang dan menampilkan juga ketika Prabowo mengajar
seorang anak dan memanen sebuah panen dengan beberapa penduduk Indonesia daerah
tersebut. Prabowo diibaratkan memiliki pengetahuan luas (internasional) dan
Cerdas.
Visualisasi
selanjutnya Prabowo menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh penduduk
Indonesia dari Sabang hingga Merauke dengan menampilkan kecerian gambar-gambar
ketika berinteraksi dengan Prabowo. Kemudian menampilkan Visualisasi
kharismawatik dengan kewibawaannya, gambar berupa Menghormat secara santun
kepada siapapun terutama penduduk Indonesia yang ditemuinya.
Scene
selanjutnya Visualiasi dengan menyatakan ketegasan walaupun dekat dengan
masyarakat Indonesia tetapi Tegas dalam sesuatu terlihat dalam gambar Prabowo
memimpin suatu pasukan dirigen iringan musik
Pada
akhir Scene menunjukkan semua masyarakat Indonesia memilih Prabowo, menampilkan
gambar semua senang dengan kehadiran Prabowo. Pada iklan versi lainnya yang
berbeda terletak pada musik dan penambahan gambar. Musik menyanyikan lagu
penegasan kita dukung bersama dan kita pilih bersama. Gambar penambahan berupa
penambahan gambar sosok Hatta rajasa yang mendukung Prabowo, Masyarakat
Indonesia yang mendukung yang menamakan sahabat prabowo yang mengartikan
penegasan dari sikap iklan versi awal.
Makna
atas kampanye iklan tersebut dapat dianalisis menggunakan analisis Semiotika.
Semiotika adalah suatu model yang memahami dunia sebagai sistem hubungan yang
dimiliki unit dasar yang disebut dengan ‘tanda’. Dengan demikian semiotik
mempelajari hakikat tentang keberadaan suatu tanda. (Bugin 2007:162).
Ketertarikan
selanjutnya untuk diteliti adalah bagaimana konstruksi sikap Prabowo dalam
kampanye iklan pemilihan presiden 2014-2019 dengan tema Indonesia Bangkit
dengan melihat tanda-tanda yang mewakilinya. Konstruksi akan suatu realitas
seperti dibahas di atas sebelumnya bisa dengan sengaja dimanipulasi dengan tujuan tertentu termasuk iklan
kampanye pilpres Prabowo ini tentang pembentukan Sikap calon presiden sebagai
sesuatu yang ditawarkan atau dijual kepada masyarakat Indonesia agar memilihnya
pada pemilu sekarang.
Tidak
ada kepemimpinan yang terbaik karena banyak faktor yang mempengaruhinya.
Kepemimpinan yang sesuai dan dibutuhkan jamannyalah yang bisa dijadikan acuan.
Maka dalam konstruksi pembentukan citra sikap prabowo dalam iklan kampanye
pilpres 2014-2019 dengan tema Indonesia Bangkit dapat menentang mitos yang
berkembang. Menurut Barthes, mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau
memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam. Iklan tersebut
membuat sesuatu yang dianggap “tidak benar” sampai waktu dapat dibuktikan bahwa
ia “benar”.
Media
punya peran dalam pembentukan konstruksi ide tersebut. Media bisa terus-menerus
menyebarkan ide gagasan tersebut dalam tayangannya sehingga bisa mempengaruhi
penonton yang lama-kelamaan bisa mempengaruhi bahwa hal tersebut sebuah
realitas yang benar. Media hanya alat. Tergantung siapa dibaliknya atau
pemakainya.
Antonio
Gramsci (Sobur, 2006:30) melihat media sebagai ruangan di mana berbagai
ideologi diprepresentasikan. Ini berarti, di satu sisi media bisa menjadi
sarana penyebaran ideologi penguasa, alat legitimasi, dan kontrol atas wacana
publik. Namun di sisi lain media juga bisa menjadi alat resistensi terhadap
kekuasaan. Media bisa menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi dominan
bagi kepentingan kelas dominan, sekaligus juga bisa menjadi alat instrument
perjuangan bagi kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan.
Dalam iklan kampanye pemilihan presiden Prabowo ini terlihat bagaimana media
dijadikan sebagai sarana penyebaran ideologi penguasa, alat legitimasi, dan
kontrol atas wacana publik. Media membangun kultur dan ideologi dominan bagi
kepentingan dominan. Seluruh proses pengemasan pesan baik pesan verbal (kata,
kalimat) maupun nonverbal (tindakan, setting) yang terkandung dalam iklan
tersebut akan menjadi menarik sesuai ideologi yang diterapkan di atas.




0 komentar:
Posting Komentar