Definisi dan Fungsi Iklan
2
Kata iklan
(advertising) berasal dari Yunani. Pengertian iklan secara komprehensif menurut
kamus Istilah Periklanan Indonesia adalah pesan yang dibayar dan disampaikan
melalui sarana media, antara lain pers, radio televisi, bioskop, yang bertujuan
membujuk konsumen untuk melakukan tindak membeli atau mengubah perilakunya.
Iklan sering dijuluki
bersifat materialistik dan menyebabkan orang bergantung pada benda. Iklan
nampaknya mempengaruhi sikap orang menjadi dinamik, memiliki daya pikat dan
kadang menjengkelkan tetapi tetap dibutuhkan oleh para pengiklan, pemilik media,
biro iklan, dan masyarakat (Liliweri, 1927:70). Pengertian Liliweri menerangkan
bahwa kegiatan periklanan mengandung unsur penyewaan dan waktu dari suatu media
massa karena ruang dan waktu memang dipergunakan oleh pengiklan untuk
menyebarkan informasi dan pesan.
Menurut Liliweri
(1991:20), Kegiatan komunikasi adalah penciptaan interkasi perorangan dengan
menggunkan tanda-tanda yang tegas. Komunikasi juga berarti pembagian
unsure-unsur perilaku, atau cara hidup dengan eksistensi seperangkat ketentuan
dan pemakai tanda-tanda. Dari segi komunikasi, rekayasa unsur pesan tergantung
dari pada siaga khalayak sasaran yang dituju, dan melalui media apa saja iklan
tersebut sebaiknya disampaikan.
Iklan pada dasarnya
adalah produk kebudayaan massa. Produk kebudayaan masyarakat industri yang
ditandai oleh produksi dan konsumsi massal. Seperti yang sudah banyak diketahui
bahwa proses produksi jaman sekaranf sudah tidak lagi diarahkan untuk
menghasilkan nilai guna melainkan konsumsi. Konsumsi menjadi tujuaan akhir dari
produksi. Setelah barang diubah menjadi komiditi, yaitu menjadi nilai tukar
sehingga bisa dijual dan diiklankan agar menjadi impian setiap orang.
Iklan sebagai teknik
penyampaian pesan atau informasi. Dengan bidang bisnis yang sifatnya non
personal, secara teoritik melaksanakan fungsi-fungsi seperti yang diemban media
massa. Semua ini karena pesan-pesan tersebut tetap mengandung fungsi informasi
dan penerangan, fungsi pendidikan, fungsi penghibur, dan fungsi mempengaruhi
sikap.
Wright, Dunn, Busch,
dan Bovee dalam Liliweri (1992:75), mengemukakan fungsi-fungsi periklanan
sebagai berikut.
1.
Fungsi Pemasaran.
Yaitu
fungsi untuk menjual informasi tentang barang, jasa, gagasan, melalui media
dengan membayar ruang dan waktu sebagai tempat lewatnya pesan dari komunikator
kepada komunikan.
2.
Fungsi Komunikasi.
Sebagai
fungsi Komunikasi, iklan berisi cerita mengenai suatu produk sehingga harus
memenuhi syarat pemberitahuan.
Fungsi
Komunikasi dikenal sebagai:
·
Memberikan penerangan dan informasi
tentang suatu barang, jasa, gagasan yang diketahui oleh satu pihak dan dijual
kepada pihak yang lain agar ikut mengetahui informasi itu.
·
Memberikan pesan yang bertemakan
pendidikan dalam arti mempunyai efek jangka panjang, mengedepankan suatu
gagasan.
·
Berusaha menciptakan pesan-pesan yang
bersifat menghibur agar dinikmati khalayak sasaran.
·
Mempengaruhi khalayak untuk lebih dekat
dan keinginan rasa untuk selalu membeli dan memakai produk yang tetap dalam
waktu yang lama.
3.
Fungsi Pendidikan.
Melalui
pendidikan untuk membentuk sikap setiap orang dapat meningkatkan aspek kognisi,
aspek afeksi, dan aspek psikomotor. Fungsi pendidikan dalam komunikasi harus
memberikan pilihan yang bebas dari khalayak untuk mengambil keputusan.
4.
Fungsi Ekonomi.
Iklan
menawarkan informasi tentang kebutuhan manusia dalam bentuk produk.
5.
Fungsi Sosial.
Iklan membantu
menggerakan suatu perubahan standar hidup yang ditentukan oleh kebutuhan
manusia di seluruh Dunia.
Perkembangan
sekarang ini menunjukkan, bahwa iklan mulai bergeser gaya atau tipologi dan
isinya, yakni lebih ke arah fungsi pendefinisian konsumen sebagai bagian
integral dari makna sosial budaya. Akhirnya iklan kemudian mulai menekankan
pada penciptaan simbol produk dan citra nilai maknanya bagi konsumen (Kasiyan,
2008:153).
Dengan
demikian dalam konteks ini, perwujudan ekspresi tanda-tanda dalam wacana iklan,
akhirnya bukan hanya makna yang berkaitan dengan substansi produk semata,
melainkan lebih menekankan pada dimensi citra suatu komoditi secara sosial.
Dalam hal ini, sesuatu bukan hanya dipakai untuk memenuhi suatu utilitas
kebutuhan tertentu, melainkan juga punya makna dan bertindak sebagai tanda
makna dalam hubungan sosial, selalu memerkan seperangkat nilai tertentu
(Kasiyan, 2008:154).
Menurut
medianya iklan dibagi dalam dua kategori besar, yaitu above the line
advertising (Lini atas) dan below the line (Lini bawah). Above the line
advertising adalah jenis iklan yang
disebarluaskan melalui media massa, misalnya surat kabar, majalah, radio dan
televisi. Sementara below the line advertising adalah kagiatan periklanan yang
tidak melibatkan pemasangan iklan di media massa dan tidak memberikan komisi
pada perusahaan. Umumnya, kegiatan periklanan lini bawah ini bersifat penjualan
promosi, yaitu kegiatan pemasaran yang dilakukan tempat penjualan (Nuradi,
Wicaksono Noeradi, Harimurti Kridalaksana, Felicia Utorodewo, dan Nani R
Indrati, 1996, dalam widyatama, 2006:14).
Sesuai
medianya, Iklan televisi (Television Commercial) adalah Iklan yang ditayangkan
melalui media televisi. Melalui media ini, pesan dapat disampaikan dalam bentuk
audio, visual, dan gerak. Bentuk pesan audio visual, dan gerak tersebut pada
dasarnya adalah sebuah tanda (Widyatama, 2006:14).




0 komentar:
Posting Komentar