Buying A New Car

There are many things that you must consider when buying a new car. Most will have to do with the car itself such as what model to buy- the options you want to add- and the price of the car. However there is one thing that it always pays to check out first- and that is- who are you buying the car from.

CAR INSURANCE FOR LADY DRIVERS

Car insurance companies prefer lady drivers to their gentlemen counterparts because they are considered as much less risky drivers.It is not that the accident rates of ladies are low. They face as many accidents as males do

AUTO LOAN NEW CAR

Is it time to get a new car? Do you want to purchase a new car to replace your current worn down vehicle? If yes is your answer- then you might want to think about your purchase and getting a loan for your new investment

CAR INSURANCE

America has become a culture of cars-SUV's- minivans and sports coupes. With all this traveling in and out- back and forth around the maze that is the United States infrastructure

NEW CAR LEASING TIPS

If you do have an accident with the outside or the inside of the car - you may have to pay for the cost. You will also only be allowed to put on so many miles in your lease period. This is hard for many people that do drive a lot

Selasa, 16 Februari 2016

Legend reborn

Legend reborn kijang inova, kini mobil legend tersebut semakin kuat imagenya dengan masuk pada segmen atas

Jumat, 13 November 2015

Strategi Kampanye

1.2  Strategi Kampanye
Seperti dalam penjelasan (Venus, 2004:  ) membuat perencanaan kampanye yang matang bukanlah sesuatu yang sulit. Tim kampanye dapat merumuskan perencanaan berdasarkan lima pertanyaan sederhana yaitu: apa yang ingin dicapai? Siapa yang akan menjadi sasaran? Pesan apa yang akan disampaikan? Bagaimana menyampaikannya? Bagaimana mengevaluasinya?
            Kelima pertanyaan tersebut dapat dituangkan ke dalama tahap-tahap perencanaan seperti yang digambarkan sebagai berikut.





Tahap-tahap proses perencanaan kampanye (Gregory, 2000:53)

Strategi kampanye adalah secara keseluruhan yang akan ditetapkan dalam kampanye. Untuk lebih mudahnya disebut sebagai guiding principle atau the big idea. Guiding principle atau the big idea ini adalah sebuah pendekatan yang diambil untuk menuju pada suatu kondisi tertentu dari kondisi saat ini, yang dibuat berdasarkan analisis masalah dan tujuan yang tidak ditetapkan. Strategi kemudian dituangkan secara lebih konkret dalam bentuk taktik.
Taktik sangat bergantung pada tujuan dan sasaran yang akan akan dibidik program kampanye. Semakin kompleks tujuan dan sasaran yang dibidik maka taktik yang digunakan harus semakin kreatif dan variatif. Namun demikian, pemilihan taktik bukanlah hal yang sangat rumit, karena pemilihan taktik sebenarnya hanya didasarkan pada dua fungsi yaitu fungsi menghubungkan dan fungsi meyakinkan. Pertama, taktik mengidentifikasi dan menghubungkan program kampanye dengan sasaran melalui media komunikasi tertentu. Kemudian taktik meyakinkan sasaran melalui kekuatan pesan komunikasi hingga membuat sasaran berpikir, percaya dan bertindak sesuai dengan tujuan program kampanye (Venus, 2004:152-153).
Pada saat melakukan kegiatan kampanye, komunikasi merupakan komponen utama dalam menyampaikan isi pesan kampanye. Bagaiman menyampaikan sebuah kampanye tanpa komunikasi? Tentu itu hal yang mustahil. Komunikasi adalah alat yang pasti digunakan pada saat kegiatan kampanye berlangsung. Setiap kampanye harus dilaksanakan dengan strategi yang pas dan tidak asal-asalan agar hasilnya sesuai dengan yang dinginkan.
Salah satu kesalahan yang paling umum adalah merancang suatu kampanye adalah membuat kampanye jatuh ke dalam jebakan aktivitas. Jika kampanye terjebak dalam suatu aktivitas maka kampanye ini bisa menjadi rutin dan seolah dikerjakan tanpa perencanaan. Alhasil kita dapat menyalahgunakan sumber daya dan sumber dana yang tidak menghasilkan apa-apa, kecuali frustasi karena kita menghadapi kegagalan. Pada titik inilah kampanye membutuhkan “strategi” untuk mencapai sukses kampanye.

Semua perencanaan kampanye selalu membayangkan menetapkan strategi kampanye ibarat menggambarkan sebuah peta territorial sebagai “medan tempur” yang harus direbut dalam suatu perang. Peta yang ditawarkan itu bisa sangat sederhana namun juga bisa sangat kompleks. Kita katakana kompleks jika kampanye memiliki suatu strategi yang tersusun rapi yang diharapkan memberikan kontribusi bagi suatu perubahan. Sebaliknya, kita katakana sederhana jika kampanye hanya berisi semacam rancangan untuk memilih taktik tertentu untuk berkomunikasi (Liliweri, 2011:686)

Persuasi Sebagai Titik Tolak Kampanye

1.2.1        Persuasi Sebagai Titik Tolak Kampanye
Pfau dan Parrot yang dikutip oleh Venus (2004:29) menyebutkan bahwa “Campaigns are inherently persuasive communication activies”. Meskipun inti dari kampanye adalah persuasi, namun tindakan persuasi dalam kampanye berbeda dengan tindakan persuasive perseorangan. Sekurang-kurangnya ada empat aspek dalam kegiatan kampanye persuasif yang tidak dimiliki tindakan persuasif perseorangan yakni:
a.       Kampanye secara sistematis berupaya menciptakan “tempat” tertentu dalam pikiran khalayak tentang prodak, kandidat atau gagasan disodorkan.
b.      Kampanye berlangsung dalam berbagai tahapan mulai dari menarik perhatian khalayak, menyiapkan khalayak untuk bertindak, hingga akhirnya mengajak mereka melakukan tindakan nyata.
c.       Kampanye juga mendramatisasi gagasan-gagasan yang disampaikan pada khalayak dan mengundang mereka untuk terlihat baik secara simbolis maupun praktis, guna mencapai tujuan kampanye.
d.      Kampanye juga secara nyata menggunakan kekuatan media massa dalam upaya menggugah kesadaran hingga mengubah perilaku khalayak.
Disamping  perbedaan di atas, Perloff menerangkan bahwa persuasi dalam kegiatan kampanye juga berbeda dari tindakan persuasi dalam setting laboratorium. Dalam tindakan kampanye, persuasi diterapkan dalam “dunia nyata” yang kompleks dan dinamis, dimana khalayak sasaran hampir tidak mungkin dikontrol laboratorium.
2.2.5 Bauran Komunikasi pada Kampanye
            Bauran komunikasi dapat ditarik unsur pokok yang berpijak pada “paradigmatic komunikasi” yang terkenal dan disampaikan oleh Harold D. Laswell yang berbunyi who says what in which channel to whom with what effect. Komponen-komponen komunikasi tersebut berkorelasional secara fungsional, sebagai berikut:
Who says                             (Siapa mengatakan)                        : Komunikator
Says what                    (Mengatakan apa)                               : Pesan (Messages)
In which channel         (melalui saluran apa)                              : Media
To Whom                    (Kepada Siapa)                                      : Komunikan
With what effect         (dengan efek apa)                        : efek dan dampak

            Metode kampanye dilakukan secara berencana, sistematis, motivasi,psikologis dan dilakukan berulang-ulang serta continue. Sebaliknya jika kampanye dilakukan secara insidentil atau hanya dilakukan sekali tertentu maka hal ini kurang bermanfaat untuk tujuaan kampanye. Kampanye tidak terlepas dari komunikasi yang bersifat membujuk (persuasif) dan mendidik (edukatif) yaitu berupaya mengubah sikap perilaku, sikap bertindak, tanggapan, persepsi sehingga membentuk opini public yang positif dan menguntungkan segi citra.


Pesan Kampanye

Pesan Kampanye
Pesan maupun isi harus disesuaikan denga situasi dan kondisi yang terdapat pada komunikan. Disamping itu, seseorang komunikator juga harus mampu menarik dan membangkitkan perhatian khalayak terhadap pesan yang akan disampaikan baik itu dari segi isi maupun program-program yang ingin disampaikan. Effendy mengatakan bahwa pesan merupakan pernyataan dalam bentuk stimuli yang disampaikan komunikator sasaran dan stimuli tersebut memerlukan strategi atau perencana komunikasi dimana di dalam isi pesan tersebut terdapat beberapa jenis pesan yaitu:
a.       Informational message: pesan yang mengandung informasi.
b.      Instructional message: pesan yang mengandung perintah
c.       Motivational messeage: pesan yang berusaha mendorong (Effendy, 2007:312)
Menurut Bettinghaus (1973; Applbaum & Anatol (1976);Shimp dan Delozier (1986) dalam buku “Manajemen Kampanye” setidaknya ada dua aspek penting yang harus diperhatikan, yakni isi pesan dan struktur pesan.
a.       Isi Pesan
Banyak hal yang berkaitan dengan isi pesan, mulai dari materi pendukungnya, visualisasi pesan, isi negatif pesan, pendekatan.
b.      Struktur Pesan
Istilah struktur pesan merujuk pada bagaimana unsur-unsur pesan yang diorganisasikan. Secara umum ada tiga aspek yang berkaitan langsung dengan pengorganisasian pesan kampanye, yaitu sisi pesan (message sideness), yaitu memperlihatkan bagaimana argumentasi yang mendasari suatu pesan persuasif disajikan kepada khalyak, susuanan penyajian (order of presentation), dan pernyataan kesimpulan (drawing conclusion). Pesan kampanye yang efektif adalah pesan yang menginformasikan dengan segera kejadian penting yang sedang terjadi di sekitar khalayak sasarannya, sehingga mudah dikenal dan ditanggapi oleh khalayak. Pesan-pesan kampanye juga harus diatur sedemikina rupa agar dapat mempengaruhi khalyaknya. Menurut Staryek (1990) penggunaan sesuatu yang jelas dan bahasa yang sederhana dalam pembuatan pesan akan membuat pesan tersebut lebih mudah dimengerti.
Ada empat tahap yang perlu dilakukan dalam merancanakan pesan dan menurunkannya dari tema kampanya yaitu
1.      Mengambil persepsi yang berkembang berkenalan dengan isu.
2.      Mencari celah dimana kita bisa masuk merubah persepsi.
3.      Melakukan identifikasi elemen-elemen persuasi

4.      Meyakinkan bahwa pesan sudah layak untuk disampaikan.

Jenis-jenis Kampanye dan Pelaku Kampanye

Jenis-jenis Kampanye
Membicarakan jenis-jenis kampanye pada prinsipnya adalah membicarakan motivasi yang melatarbelakangi diselenggarakannya sebuah program kampanye. Motivasi tersebut pada gilirannya akan menentukan kearah mana kampanye akan menentukan kearah mana kampanye akan digerakan dan apa tujuan yang akan dicapai. Jadi secara inheren ada keterkaitan antara motivasi dan tujuan kampanye. Bertolak dari keterkaitannya tersebut, Charles U. Larson (1992) kemudian membagi jenis kampanye ke dalam tiga kategori yakni: product-oriented campaigns, candidate-oriented campaigns, dan ideologically`oriented campaigns.(Venus, 2004: 10-12). Jenis kampanye yang dilaksanakan oleh Pemkot Bandung masuk ke dalam ideologically or cause oriented campaigns.
            Ideologically or cause oriented campaigns adalah jenis kampanye yang berorientasi pada tujuan-tujuan yang bersifat khusus dan seringkali berdimensi perubahan sosial. Karena itu, kampanye jenis ini dalam istilah Kotler disebut sebagai social change campaigns, yakni kampanye yang ditujukan untuk menangani masalah-masalah sosial melalui perubahan sikap dan perilaku publik yang terkait. Sedangkan berbagai jenis kampanye yang tidak termasuk dalam kategori kampanye politik atau kampanye produk dapat dimasukan ke dalam kampanye perubahan sosial. Oleh karena itu cakupan jenis kampanye ini sangat luas mulai dari kampanye di bidang kesehatan, kampanye linkungan, kampanye pendidikan, kampanye lalu lintas, kampanye ekonomi, atau kampanye kemanusiaan.
1.2.2        Pelaku Kampanye
Semua yang terlibat dalam menggagas, merancang dan mengorganisasikan dan menyampaikan pesan dalam sebuah kegiatan kampanye disebut pelaku kampanye. Ini berarti kampanye tidak dikerjakan oleh pelaku tunggal melainkan sebuah tim kerja (teamworks).
Zalmar dkk (1992) dikutip oleh Antar Venus dalam buku ”Manajemen Kampanye”, membagi tim kerja kampanye dalam dua kelompok, pertam Leaders(Pemimpin atau tokoh-tokoh), yaitu coordinator pelaksana, penyandang dana, petugas administrasi kampanye dan pelaksanaan tekhnis.
Kelompok kedua, adalah supporter yaitu lapangan kader, simpatisan, penyumbang, yang meramaikan acara kampanye. Thayer (Signntzer, et. Al, 1986) membedakan juga dua jenis kampanye (mediator), yaitu Instrumental Mediator yang berfungsi sebagai komunikasi anonym, dan Consumentary Mediator yang mempresentasikan lingkungan nyata dari situasi atau gagasan yang dikampanyekan. Dalam kehidupan nyata, setiap orang mampu dan bisa menjadi komunikator dalam penyampaian pesan, tetapi sangat sulit menemukan seseorang yang dipandang memiliki kredibilitas tinggi untuk setiap situasi yang dihadapi untuk menjadi komunikator yang baik. Idealnya ada kesesuaian antara pelaku kampanye (komunikator), objek kampanye, khalayak penerima, pesan dan media yang digunakan. Penelitian yang dilakukan Hovland, Jenis, dan Kelley(Windahl,Signitizier dan Olson, 1983) menemukan tiga aspek yang mempengaruhi kredibilitas sumber (komunikasi) yakni:
a.       Kepercayaan (trustworthiness)
Trustworthiness berkaitan dengan penilaian khalayak, bahwa sumber informasi dianggap tulus, jujur, bijak dan adil, objektif, memiliki integritas pribadi, serta memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi
b.      Keahlian (expertise)
Faktor keahlian berhubungan dengan penilaian dimana sumber dianggap berpengetahuan, cerdas, berpengalaman, memiliki kewenangan tertentu dan menguasai skill yang bisa diandalkan.
c.       Daya tarik (attractiveness)
Secara umum konsep ini meliputi penampilan fisik dan identifikasi psikologis sebagai daya tarik pada seseorang yang didasarkan pada kesamaan nilai atau karakteristik kepribadian lainnya. Selain ketiga faktor diatas, pada tahun 1973, Mc Croskey, Jensen dan Velencia mengidentifikasikan tiga faktor pendukung lainnya yang mempengaruhi kredibilitas sumber yaitu keterbukaan (extroversion), ketenangan (composure), kemampuan bersosialisasi (Socialibility), dan karisma.
ASPEK
KARAKTERISTIK

Kepercayaan
Kaitannya dengan moralitas(bukan pada kemampuan), kejujuran, ketulusan, bijak dan adil, memiliki sikap dan perilaku terpuji, kepedulian dan tanggung jawab sosial, serta memiliki integritas pribadi.

Keahlian
Tingkat pendidikan, kecerdasan, wawasan lain, pengusaan keterampilan dan pengalaman

Daya tarik
Meliputi daya tarik fisik dan daya tarik psikologis

Faktor pendukung lainnya
Keterbukaan, ketenangan dan kemampuan bersosialisasi.


Tabel Kredibilitas Pelaku Kampanye

(Sumber: Venus, A, Manajemen Kampanye, 2004:67)

Kamis, 12 November 2015

Pengertian Kampanye menurut para Ahli

“Kampanye, Ujar Sweeney, Seperti sebuah perjalanan, yang dimulai dari satu titik, dan berakhir pada titik yang lain. Untuk sampai pada titik tujuan maka orang harus bergerak ke arah yang tepat. Di sini orang memerlukan peta yang dapat memandu dan menunjukkan arah yang harus ditempuh agar sampai ke tujuan. Perencanaan, lanjut Sweeney, adalah peta dalam perjalanan kampanye. (Shea, 1996)”[1]

            Alasan mengapa sebuah perencanaan harus dilakukan dalam sebuah kampanye. (Gregory, 2000; Simmons, 1990), yaitu
a.       Memfokuskan Usaha
b.      Mengembangkan sudut pandang berjangka waktu panjang.
c.       Meminimalisir Kegagalan
d.      Mengurangi Koflik
e.       Memperlancar kerjasama dengan pihak lain

Menurut WWF (The World Wide Fund for Nature) Indonesia, kampanye adalah alat untuk menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran, untuk meningkatkan kepedulian dan perubahan  perilaku dari target audiens. Kampanye juga dapat dilihat sebagai alat advokasi kebijakan untuk menciptakan tekanan public pada actor-aktor kunci, misalnya peneliti, ilmuwan, media massa dan pembuat kebijakan.[2]
Sedangkan secara pandangan komunikasi, kampanye memiliki definisi yang lain. Kampanye pada prinsipnya merupakan suatu proses kegiatan komunikasi individu atau kelompok yang dilakukan  secara terlembaga dan bertujuan untuk menciptakan suatu efek atau dampak tertentu.
Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye sebagai rangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu. Merujuk pada definisi ini, maka setiap aktivitas kampanye komunikasi setidaknya harus mengandung empat hal yang dikemukakan oleh Antar Venus (2004, hal7)
1.      Tindakan kampanye yang ditujukan untuk menciptakan efek atau dampak tertentu.
2.      Jumlah khalayak sasaran yang besar.
3.      Dipusatkan dalam kurun waktu tertentu.
4.      Melalui serangkaian tindakan komunikasi yang terorganisasi.
Beberapa ahli komunikasi mengakui bahwa definisi yang diberikan  Rogers dan Storey adalah yang paling popular dan dapat diterima di kalangan ilmuwan komunikasi (Grossberg, 1998; Snyder, 2002; Klingmann & Rommele, 2002). Hal ini didasarkan kepada dua alasan. Pertama, definisi tersebut secara tegas menyatakan bahwa kampanye merupakan wujud tindakan komunikasi, dan alasan kedua adalah bahwa definisi tersebut dapat mencakup keseluruhan proses dan fenomena praktik kampanye yang terjadi di lapangan.
Salah satu ahli kampanye yang mengembangkan model kampanye adalaah Leon Ostergaard, seorang teoritisi dan praktisi kampanye kawakan dari Jerman. Model rancangannya dikenal dengan ‘Model Kampanye Ostergaard’.
Menurut Ostergaard sebuah rancangan program kampanye untuk perubahan sosial yang tidak didukung oleh temuan-temuan ilmiah tidak layak untuk dilaksanakan. Alasannya karena program semacam itu tidak akan menimbulkan efek apapun dalam menanggulangi masalah sosial yang dihadapi. Karenanya, sebuah program kampanye hendaknya selalu dimulai dari identifikasi masalah yang jernih. Lankah ini disebut juga tahap prakampanye.
Komunikasi memiliki perang penting dalam terlaksananya kampanye Gerakan Pungut Sampah ini. Bagaimanapun juga, kampanye akan terlaksana secara baik apabila disampaikan dengan cara yang baik kepada masyarakat. Isi kampanye yang berkualitas akan menjadi titik balik apabila cara penyampaiannya tidak baik. Oleh karena itu, komunikasi merupakan hal yang sangat penting pada setiap pelaksanaan kampanye apapun.
Pelaksanaan kampanye juga terkait dengan bagaimana isi pesan itu disampaikan agar mengenai target audiensnya sehingga apabila diperoleh hasil yang diinginkan oleh pihak penyelenggara. Selain itu, kredibilitas juga mempengaruhi kelancaran sebuah kampanye. Sehingga kampanye yang dilaksanakan dapat memperoleh hasil yang maksimal dan memuaskan.
Dibalik kesuksesan setiap kampanye, selalu hadir para perancang pesan yang sensitif dan kreatif, ujar Rogers dan Synder. Para perancang pesan ini umumnya memiliki kepekaan dalam mengidentifikasi karakteristik khalayaknya dan memiliki kreatifitas dalam mendesain pesan sesuai ciri-ciri umum khalayak yang menjadi sasaran utama. Pada penyampaian pesan kampanye, ada tiga hal penting yang harus diingat, yaitu isi pesan, struktur pesan, dan pesan kampanye dan respon khalayak (Venus 2004: hal 71)
1.      Isi Pesan
Banyak hal yang terkait dengan isi pesan kampanye, seperti materi kampanye, pendekatan dalam menyampaikan kampanye, kreatifitas, pesan negatif pesan, dan sebagainya. Menurut penelitian, hal-hal seperti ilustrasi kejadian, visualisasi kejadian, fakta, dan kejadian bersejarah dalam sebuah pesan sangat mempengaruhi perubahan sikap orang yang menerima pesan tersebut. Pada sisi lain, pelaku kampanye juga harus melihat isi pesan dari pendekatan emosional, rasa takut, kreativitas, dan humor saat penyampaian pesan.

2.      Struktur Pesan
Struktur Pesan merujuk pada bagaimana unsur-unsur pesan diorganisasikan. Secara umum ada tiga aspek yang terkait langsung dengan pengorganisasian pesan kampanye yakni sisi pesan (message sidedness), Susunan penyajian (Order presentation), dan pernyataan kesimpulan (drawing conclusion)
3.      Pesan Kampanye dan Respon khalayak
Respon khalayak terhadap pesan kampanye dipengaruhi oleh proses penerimaan dan pengelolaan pesan atau informasi yang dilakukan khalayak. Oleh karena itu, pesan harus memiliki kemampuan tertentu yang dapat mendorong khalayak untuk memberikan respon positif sesuai harapan pelaku kampanye. Beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian misalnya penekanan terhadap apa yang dipersepsi orang, bagaimana pesan tersebut dapat menarik perhatian khalayak, serta bagaimana informasi dalam pesan itu disimpan dan diingat oleh penerimanya.
Sebuah kampanye yang dirancang dengan sedemikian baik, pasti akan menjadi faktor penunjang keberhasilan `dalam pelaksanaan kampanye tersebut. Namun, sebaik apapun kampanye itu dirancang dan dibuat pasti akan mengalami hambatan yang terjadi pada saat pelaksanaan kampanye tersebut, baik itu hambatan internal atau eksternal. Berikut akan dipaparkan beberapa pendapat ahli mengenai faktor penunjang dan penghambat dalam sebuah kampanye (Venus 2004: hal.130)

Faktor penghambat dan keberhasilan kampanye menurut Hyman dan Sheatsley :
1.      Pada kenyataannya memang selalu ada sekelompok khalayak yang ‘tidak akan tahu’ tentang isi pesan-pesan kampanye yang ditujukan kepada mereka. Ketidaktahuan itu bisa disebabkan berbagai faktor, mulai dari ketidakseriusan memperhatikan pesan sehingga ketidakmampuan memahami isi pesan.
2.      Kemungkinan individu memberikan tanggapan pada pesan-pesan kampanye akan meningkat bila ketertarikan dan keterlibatan mereka terhadap isu yang diangkat juga meningkat. Ini artinya jika sedikit orang yang tertarik maka akan sedikit pula yang memberikan respons. Bila konstruksi pesan kampanye yang dibuat tidak cukup menarik perhatian maka akan gagal. Karena itu buatlah pesan yang mencuri perhatian khalayak.
3.      Orang akan membaca mempersepsi informasi yang mereka terima berdasarkan nilai-nilai dan kepercayaan yang dimiliki. Ini artinya orang akan memberikan respons yang berbeda terhadap pesan yang disampaikan kepada mereka.
4.      Kemungkinan individu untuk menerima informasi atau gagasan baru akan meningkat bila informasi tersebut sejalan dengan sikap yang telah ada. Dengan kata lain orang cenderung menghindari informasi yang tidak sesuai dengan apa yang telah diyakini.
Setelah melakukan analisa terhadap lebih dari dua puluh kampanye yang dilakukan di AS, Rogers dan Storey menyimpulkan bahwa untuk suksesnya sebuah kampanye biasanya ditandai oleh empat hal:
1.      Penerapan pendekatan yang bersifat strategis dalam menganalisakan khalayak sasaran kampanye, dalam hal ini termasuk analisis sejauh mana pengetahuan khalayak tentang topik, dan bagaimana persuasi mereka terhadapnya.`
2.      Pesan-pesan kampanye dirancang secara segmentif sesuai dengan jenis-jenis khalayak yang dihadapi. Segmentasi tersebut dapat berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, budaya, manfaat prodak, dan gagasan.
3.      Penetapan tujuan yang realitis.
4.      Akhirnya kampanye lewat media akan lebih mudah meraih keberhasilan bila disertai dengan penyebaran personel kampanye untuk menindaklanjuti secara interpersonal.




[1] Venus, Antar. 2004. Manajeman Kampanye : Panduan Teoritis dan Praktis dalam mengefektifkan kampanye Komunikasi. Bandung : Simbiosa Rekatama

[2] http//www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/iklim_dan_energi/solusikami/kampanye/ (kamis 13 Juni 2013)

Senin, 09 November 2015

iklan prabowo

Iklan bukanlah sekedar penyampaian pesan atau alat pemasaran yang bertujuan untuk mempersuasi khalayak agar tertarik kepada produk yang diiklankan. Bila dilihat melalui kacamata semiotika, iklan kaya akan tanda dan didalamnya terdapat permainan tanda yang dapat dianalisis sehingga melahirkan makna tertentu. Begitu pula dengan iklan Prabowo dalam iklan kampanye Pilres 2014-2019 tema Indonesia Bangkit pada media televisi yang dijadikan objek penelitian pada skripsi ini yang menghasilkan makna tentang konstruksi sikap calon pemimpin Negara (Presiden).
Proses konstruksi realitas yang dilakukan oleh media merupakan usaha untuk ‘menceritakan’ (konseptualisasi) sebuah peristiwa atau keadaan. Realitas tersebut tidak begitu saja melahirkan berita, melainkan melalui proses interaksi antara penulis dengan fakta. Dalam media massa, keberadaan bahasa tidak lagi sebagai alat semata untuk menggambarkan realitas, melainkan bisa menentukan gambaran (citra) yang akan muncul di benak khalyak.
Jika pada bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai metode yang digunakan dalam penelitian, maka bab ini akan menjelaskan tentang proses analisis teks pada iklan Prabowo iklan Kampanye Pilpres 2014-2019 tema Indonesia Bangkit sebagai objek penelitian untuk menemukan makna di balik tanda-tanda  yang melahirkan konstruksi sikap seorang calon pemimpin Negara (Presiden) dalam iklan Prabowo dalam iklan Kampanye Pilpres 2014-2019 tema Indonesia Bangkit.
Dalam beberapa scene di iklan ini, peneliti melihat berbagai wujud resistensi terhadap ideologi kepemimpinan, mulai dari resistensi secara tidak langsung hingga resistensi secara langsung. Menurut Weber, patriarki menjelaskan..
Namun tidak semua scene dalam iklan ini mengandung resistensi terhadap ideology kepemimpinan. Peneliti melihat iklan ini mengandung nilai yang berbeda tentang kepemimpinan sosok calon presiden dengan yang ditawarkan pesaingnya sosok yang diidentikan …. Secar keseluruhan iklan ini berusaha menawarkan kepemimpinan yang tegas.
4.1 Struktur Teks Iklan
            Semiotika Roland Barthes hampir memiliki kesamaan dengan teori bahasa yang dikembangkan oleh de Saussure. Saussure mengemukakan empat konsep teoritis, yakni konsep Langue-parole, significant-signifie, sintagmatik-paradigmatik, dan sinkroni-diakroni. (Hoed, 2011:10). Dalam analisis struktur teks, Barthes menggunakan dua konsep yang relevan, yakni konsep hubungan sintagmatik-paradigmatik, dan konsep denotasi-konotasi. (Hoed, 1994:11).
            Tanda tersusun dalam susunan tertentu (jukstaposisi), yang disebut susunan sintagmatik. (Hoed, 2011:10). Susunan sintagmatik merupakan susunan yang dapat diamati secara langsung, bersifat linier yakni ditempatkan mengikuti urutan tertentu , sehingga bila urutannya berubah maka maksudnya pun dapat berubah.
            Jika relasi sintagmatik adalah relasi antarkomponen dalam suatu struktur yang sama, maka relasi paradigmatik adalah relasi antara komponen dalam suatu struktur dan komponen lain diluar struktur itu. Hubungan paradigmatik bersifat asosiatif, yakni hubungan dimana satu tanda dengan tanda yang lain tidak bersifat langsung atau tidak berada dalam ruang yang sama. Hubungan paradigmatik adalah hubungan eksternal suatu tanda dengan tanda lain. Tanda lain yang bisa berhubungan secara paradigmatik adalah tanda-tanda satu kelas atau satu sistem. (Sunardi, 2002:64).
4.1.1 Struktur Sintagmatik Teks Iklan
            Analisis sintagmatik melihat teks sebagai sebuah rangkaian dari satuan waktu dan tata ruang yang membentuknya. Sintagma ibarat suatu rantai, sehingga analisis sintagmatik berupaya melihat teks sebagai rangkaian peristiwa yang membentuk sejumlah narrative atau cerita (Berger, 1982:24). Pembacaan sintagmatik memperlihatkan bagaimana relasi tanda yang dikomunikasikan ke dalam struktur tertentu berdasar kaitan waktu atau berada pada sumbu horizontal. Masing-masing unsur dalam struktur teks berkedudukan sejajar. Dalam melakukan analisis sintagmatik, diperlukan beberapa tahapan,yakni mendekskripsikan iklan secara lengkap, lalu melakukan identifikasi adegan, dan melakukan analisis terhadap susunan adegan. Penjelasan mengenai tahapan-tahapan yang peneliti lakukan dalam melakukan analisis sintagmatik bisa dilihat pada pembahasan di bawah ini.

            Dalam analisis sintagmatik, hal pertama yang harus dilakukan adalah pendeksripsian dari teks yang akan diteliti. Pendeskripsian yang dimaksud di sini adalah menceritakan alur cerita yang ada pada teks tersebut. Pada tayangan iklan kampanye Pilpres Prabowo tema Indonesia Bangkit ini secara garis besar bercerita tentang sikap calon pemimpin Negara (Presiden) yang coba dikonstruksikan kepada masyarakat Indonesia sebagai sesuatu konsep kepemimpinan yang coba ditawarkan agar masyarakat Indonesia memilihnya dalam pemilu 2014-2019.